Home Humaniora 14 Mei 1962 : Upaya Pembunuhan Terhadap Soekarno

14 Mei 1962 : Upaya Pembunuhan Terhadap Soekarno

336
0
SHARE

Kupang, Terasntt.com – Hari ini 56 tahun yang silam, kali pertama lapangan Istana Merdeka dibuka untuk umum dalam rangka pelaksanaan ibadah Salat Idul Adha.

Presiden RI ke-1 Soekarno hadir bersama umat muslim yang memenuhi istana dan ikut salat bersama mereka.

Walau istana terbuka, penjagaan tetap ketat agar tetap kondusif.

Saat ibadah salat dimulai, seketika pekikan takbir diiringi suara tembakan yang bersumber dari seorang pria memecah kekusyukan.

Pria itu keluar dari barisan pertama dan mengarahkan pistolnya ke Soekarno.

Peluru pertama meleset, mengenai Ketua DPR kala itu, Zainul Arifin. Lalu, peluru kedua ditembakkan dan tetap meleset.

Diketahui, pria itu adalah kiai yang memimpin pemberontak DI/TII, Moh Bachrum. Namun, ada juga cerita yang mengatakan pelaku bukan Bachrum, melainkan orang suruhannya.

Soekarno Miliki Dua Bayangan

Berdasarkan kisah dari versi lain, Soekarno diselamatkan oleh dua orang polisi. Kedua polisi yang terkena tembakan Bachrum adalah Amoen dan Susilo.

Mereka bersama beberapa polisi lain serempak bertubrukan menutupi tubuh Soekarno.

Amoen tertembak di dada, sedang Susilo terserempet peluru di bagian kepala. Namun keduanya selamat.

Tapi, kabar yang menguat adalah pelaku penembakan melihat ada dua bayangan yang melindungi Soekarno, sehingga si pelaku dibuat bingung.

Soekarno dievakuasi dan pelaku diciduk

Sebelum peristiwa itu terjadi, Komandan Kawal Pribadi Soekarno, Mangil Martowidjojo, sudah mendapat informasi dari Kapten Dahlan, Komandan Pengawal Istana, terkait percobaan pembunuhan terhadap Soekarno oleh kelompok Darul Islam sehari sebelumnya.

Setelah mendapatkan informasi soal rencana pembunuhan Soekarno, Mangil kemudian mengecek kegiatan Soekarno sepekan ke depan.

Dan didapati bahwa momen Salat Idul Adha tersebut adalah yang paling longgar pengamanannya. Karena, pintu Istana Merdeka dibuka untuk umum.

Lalu, Mangil membuat skenario pengamanan Soekarno dengan menyamar mengenakan sarung dan kopiah, ditemani wakilnya, Soedarso berdiri enam langkah di depan Soekarno saat pelaksanaan salat.

Setelah terlihat gerakan mencurigakan si penembak, Mangil langsung menyeret Soekarno dari lokasi dalam keadaan menunduk. Sedangkan Soedarso sudah siaga menarik pistol sambil berjalan mundur.

Pelaku berhasil dilumpuhkan dan diamankan aparat keamanan. Saat diinterograsi, pelaku mengaku melihat dua bayangan Soekarno sehingga tembakannya meleset.

Apap-pun argumentasi pelaku, hukuman mati yang diputuskan pengadilan tak dapat dihindari. Namun, ketika diajukan, Soekarno menolak menandatangani surat hukuman itu.

“Aku tidak sampai hati memerintahkan dia dieksekusi,” kata Soekarno.

Setelah meletus G30S, tempat tahanan Bachrum dipindahkan dari RTM ke penjara Salemba.

Peristiwa ini jadi perhatian khusus Menteri Pertahanan dan Keamanan, Jendral Abdul Haris Nasution.

Ia menyarankan Soekarno membentuk resimen khusus menjaga dirinya dan keluarganya.
Dalam tim ini harus ada prajurit-prajurit terbaik dari empat angkatan: AD, AURI, AL, dan Polri.

Permintaan ini pun disetujui Soekarno yang mengeluarkan surat keputusan pembentukan resimen kawal bernama Tjakrabirawa pada 6 Juni 1962, saat ulang tahun Soekarno.

Sumber : Wikipedia/Rimanews
Editor : Rafael L Pura

Berikan Komentar Anda.