Agustinus Kebon, Dari Office Boy Jadi Pengusaha Sukses

Agustinus Kebon, Dari Office Boy Jadi Pengusaha Sukses

1902
0
SHARE
Foto : Istimewa

KUPANG, Terasntt.com — Agustinus Demon Kebon salah satu pengusaha asal NTT yang sukses di Jakarta. Ia bukan seperti kebanyakan pengusaha lainnya. Agustinus menggunakan logika terbalik dalam usahanya, jika kebanyakan pengusaha melihat uang sebagai tujuan, tidak untuk Agustinus. Ia justru melihat uang sebagai akibat.

Akibat usaha dan kerja kerasnya, Agus mengibaratkan kehidupan ini seperti sungai yang mengalir , airnya mengalir melawan bebatuan dan mencapai muara pada saatnya dalam gerak wajar.

“ Tuhan tidak akan tutup mata bagi hambanya yang berusaha keras. Kalau bekerja sungguh-sungguh dan jujur, niscaya, Tuhan akan melipatgandakan setiap cucuran keringat yang keluar,” kata mantan office boy ini.

Sebagaimana sungai, Totalitasnya tanpa batas dalam berusaha, akhirnya mengantarnya menjadi peggusaha sukses.

Pernah jadi Office Boy pada sebuah perusahaan di Jakarta, kini Agus jadi pengusaha sukses dengan omset ratusan juta per bulan. ia mengawali langkahnya menjadi marketing pada usaha yang sama. Semangat, keuletan dan ketekunan membuat usahanya terus menanjak.

Hidup adalah perjungan, siapa yang menabur, ia akan menuai. Filosofi ini nampaknya berlaku bagi Agustinus. Berkat kerja kerasnya dan kejujurannya ia kini bisa menggapai sukses lewat usaha Fire Safety- nya. Dari usahanya ini, ia bisa meraup keuntungan Rp 600-an juta per bulan.

Pria kelahiran lamabelawa, Witihama, Flores Timur, 41 tahun silam ini, tak pernah berpikir akan sesukses ini, telebih ketika ia mengenang masa-masa awal kedatangannnya ke Jakarta. Mulai merantau ke jakarta puluhan tahun silam, pria yang hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini sama sekali tidak memiliki keahlian. Ia berani mengadu nasib ke Ibu Kota hanya membawa sebuah tas berisi pakaian, untuk bertahan hidup melawan keganasan ibu kota, ia pun tidak memili-milih pekerjaan. Mula-mula ia dipekerjakan sebagi office boy.

Berkat ketekunannya dalam pekerjaan, ia pun akhirnya naik jabatan menjadi tukang pengirim barang. Berkat keuletannya pula, Ia diangkat menjadi kepala pengiriman barang, setelahnya, Ia menjadi Manajer.

Rupanya, jabatan Manajer yang diembannya hanya bertahan sehari. Ia dipecat dengan alasan tidak jelas. Rupanya, pengalaman ini, kemudian menjadi titik bidik balik kesuksesannya.

Bak senitetron memang kisah hidupnya, namun bukan seperti kebanyakan sinetron cengeng lainnya, yang dalam bahasa Grup Band Jamrud, “yang sabar selalu menang”.

Agustinus seolah melampui kesabaran tersebut. Mencermati kisah hidupnya, Agus adalah perwujudan dari semangat, kerja keras, kejujuran dan kesabaran itu sendiri.

Anak Kampung yang Keluar dari Zona Nyaman melawan Ganasnya Ibu Kota

Sebuah perjalanan panjang dimulai dari kampungnya Lamabelawa, Witihama, Flores Timur. Terlahir dari keluarga miskin, mendorong Agus untuk keluar mencari nafkah. Mula-mula, Kota tujuan merantaunya di Batam, namun berkat ajakan seorang temannya di dalam Kapal, ia akhirnya memutuskan untuk meneruskan langkahnya ke Jakarta. sebuah keputusan singkat penuh resiko.

Betapa tidak, Jakarta adalah Ibu Kota Negara, tempat tinggalnya para cendikiawan, para sarjana, para pengusaha besar, sedang Agus hanya anak kampung, bermodalkan ijasa SMA dan tidak punya keahlian.

Menyadari hal itu Agus tidak pernah memilih-milih pekerjaan. Apa saja siap dikerjakannnya. Sejauh halal dan mendatangkan uang demi keberlangsungan hidup anak dan istrinya. Mula –mula ia bekerja disebuah perusahan swasta yang bergerak dalam penjulan fire safety, sebagai office boy, setelah sebelumnya sempat mengalami masa-masa kritis karena terus ditolak oleh perusahan yang ia lamar.

Menjalani pekerjaan sebagai Office Boy dengan ketekunannya, Ia bahkan tak henti-hentinya bersyukur karena telah diterima bekerja.

” Aku bersyukur diterima bekerja, senang sekali saya waktu itu. Aku menjalani pekerjaan ini tanpa menuntut hal-hal lain, aku menjalani kewajibanku sebagaimana mestinya,” tutur Agus.

Berkat keuletan dan kerja kerasnya, Agus akhirnya naik jabatan menjadi tukang pengiriman barang. Agus yang terbiasa dengan menyapu dan mengepel lantai dituntut agar bisa mengoperasikan komputer.

“ Sulit memang awalnya. Dibesarkan di kampung yang tidak tau apa-apa tentang teknologi, tiba-tiba saya dihadapankan pada komputer. Namun, inilah kehendak zaman, siapa yang tidak mau berubah, ia kan digilas. Dengan penuh kesabaran, aku mulai belajar bertahap dari Ibu dewi, teman sekantorku. Aku harus bertima kasih kepadanya,” kenang Agus.

Lagi-lagi, atas kerja keras dan kuelatannya dalam mengemban tugas tersebut, Agus kemudian diangkat menjadi staf marketing.
Ia mengisahakan, menjadi seorang staf marketing ternyata tidak segampang seperti yang dibayangkan. Setiap harinya, Ia berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di Jakarta, keluar masuk lorong, menjelajahi setiap ceruk terkecil sudut-sudut Kota untuk membagikan kartu namnya pada setiap perusahan. letih memang. Terkadang, kakinya terkelupas berdarah, tatkala tak mampu lagi menempuh jauhnya perjalanan di batas kewajaran kerja tubuh. Penat, panas, letih, semua itu seolah telah menyatuh dalam dagingnya dan tinggal didalam dirinya.

Hari-hari berat penuh tantangan seperti ini, membuatnya harus terus berbenah dan berinovasi. Kemauannya untuk terus menambah pundi-pundi ilmu dan pengalamannya, membuatnya tak pernah berhenti belajar. Akhirny kartu namanya mulai dilirik oleh perusahan. Setelahnya, selama tujuh tahun, Agus memberikan kontribusi begitu besar bagi perusahan tersebut.

Ciri petarung sejati dalam diri Agus tidak hanya sampai pada tingkatan ini, ketika diinstrusikan bekerja apa saja, Agus seolah mengcopy sejarah semangat perjalanan hidupnya di tahun-tahun sebelumnya. Jadilah, Agus kemudian diangkat menjadi manajer Marketing pada perusahan tersebut.
Sebuah pencapaian luar biasa diluar perkiraanya, kendati hanya bertahan satu hari karena dipecat dengan alasan yang tidak jelas.

“ Artinya, saya hanya menjabat sebagai manager Marketing tidak lebih dari 24 jam. Di dunia pekerjaan, banyak orang punya kepentingan dan sentimen tertentu. Mungkin saya kerja terlalu lurus,” ungkapnya.

Kendati dipecat, namun pencapain menjadi seorang manajer dalam perusahan tersebut patut jadi kebanggaaan. Pada pencapain itu, agus memberi sepenggal kesaksian, bahwa berusaha menggapai sukses ibarat menggembara di padang gurun, penuh cobaan dan tantangan.
Titik Balik Kesuksesan Agus Setelah dipecat dari Manager

Kehilangan pekerjaan bukan menjadi akhir perjalanan karir Agus. Pemecatan dirinya dari kursi Manajer tersebut rupanya menjadi titik balik dari kesuksesan yang ia raih.

Hari-hari pertama setelah dipecat, Agus seolah kehilangan arah, Ia bingung menjalani kehidupannya. Terlebih, Ia tidak mempunyai tabungan sama sekali. Gajinya yang hanya Rp 900 ribuh dari perusahan itu, telah digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-harinya.

Sekarang, ia tidak mempunyai uang sama sekali, sedang anak dan istrinya di rumah membutuhakan biaya hidup. Biaya pendidikan anak-anak, dan kebutuhan lainnnya.

Agus berusaha bangkit dari saat-saat getir ini, bersama dua rekannya yang mengalami nasib yang sama pada perusahan tersebut, kemudian bersama -sama mendirikan usaha yang bergerak di bidang yang sama.

Awalnya, banyak orang yang pesimis dengan usaha yang rintis, apalagi melihat latar belakang Agus yang hanya memiliki ijasah SMA.

” Justru keraguan mereka itu manjadi motivasi bagi kami untuk menjalani bisnis kami,” ujar Agus.

Agus berkisa, karena tidak memiliki modal yang cukup, mereka memulainya menjadi trader utuk sebuah pabrik fire safety.

Memang, pengalaman yang marketing yang ia miliki menjadi modal dasar usahanya ini. Semua kostumer yang dulu sempat menggunakan jasanya masuk dalam daftar konsumernya.

” Pengalaman itu membuat saya dewasa dan mandiri, sekaligus tersadarkan bahwa peluang bisnis selalu ada, sekecil apa pun itu,” ujar Agus.

Ketika usahanya mulai berkembang, Agus justru dikhianati oleh rekan-rekannya. Satu per satu konstumer Agus diambil alih pihak pabrik dan melarang rekannnya menghubungi Agus untuk pembelian. Agus kemudian menarik diri da merintis usahanya sendiri.

Bagi Agus, tak masalah ia menarik diri. Toh, semua jaringan costumer masih jadi miliknya. Sebuah langkah jitu dari Agus membaca peluang tersebut.

” ya, semua kostumer ada di saya, mereka percaya kepada saya, bukan masalah pada besarnya pabrik itu, namun jaringannya. Dan aku memiliki jaringan itu,” tutur Agus.

Agus seolah mengulangi kisahnya, ketika usaha yang dirintis mulai berkembang, lagi-lagi ia dikhianati oleh rekan kerjanya.

Penghianatan kali ini paling pedih dari sebelumnya, karena datang dari orang-orang yang paling dipercayainya. Rekan-rekannya ini, kisah Agus, setelah dirinya menarik diri dari pabrik tersebut, ia berjumpa dengan rekan tersebut. Kendati baru pertama bertemu, Agus langsung mempercayainya.

” Entah kenapa, aku mempercayainya. Pada masa-masa kritis usaha dibangun dari nol, aku sudah memberinya gaji, sampai-sampai, pada sekali waktu, ia berbalik merasa kasihan kepada saya, ia berkata, ; kita belum memiliki keuntungan namun engkau selalu meberikan saya gaji. Aku lantas menjelasakn semua kepadanya. Saat itu, aku yakin dia akan selalu setia,” tutur Agus.

Luar Biasa Kepribadian Agus ini, setelah dikhianti, bukannya menaru dendam, namun mala menerima semua itu sebagai bagian dari tantangan.

“Saya dan ibu Dewi merelakan itu, anggap saja saya nyumbang buat mereka yang menghianati kami, karena kami yakin, kerja benar, jujur, rezeki pun akan semakin melimpah, rejeki sudah ada yang mengatur,” pungkasnya optimis.
Kuseksasan Itu Pun Datang

Boleh dibilang, Agus sekarang tengah menikmati masa-masa kejayaannnya setelah menaklukan berbagai rintangan. Kini omset perusahannya mencapai 600 juta perbulan. Agus dan rekannya berhasil menyewa sebuah gedung mewah menjadi kantor.

Selain menyediakan barang kebutuhan fait safety, perusahannnya juga menyediakan alat-alat yang berhubungan dengan proteksi kebakaran, semisal pemadam api dan hydrant Box.

Luar biasanya lagi, Perusahan tersebut sudah bisa memproduksi alat nya sendiri. Tidak tanggung-tanggung pengembang-pengembang terbesar di Indonesia adalah clien setia Agus, sebut saja Podomoro Group dan Agung Sedayu, groupnya Paramount, Sumarecon Group, Alam Sutra, Sinarmas, dan masih banyak lagi.

Impian Yang Terwujud

Ketika Agus memulai perjalanan dari Kampungngnya menuju Ibu Kota Jakarta, dia tak pernah membayangkan akan menjadi sesukses ini. Namun begitulah hakikat kerja keras, keteguhan hati, dan keberanian mengambil resiko. Agustinus Demon Kebon, telah berhasil mewujudkan impiannnya.

Keberhasilan Agus ini turut memberikan kesaksian lain, bahhwa pendidikan tinggi bukan satu-satunya jalan meraih Sukses. Asal ada kemauan, ketekunann, dan jujur, kita akan melangkah ke arah yang sama sebagaiaman Agus Melangkah. (Rafael L Pura)

Berikan Komentar Anda.