Alex Ofong : Literasi Sebuah Proses Kebudayaan

Alex Ofong : Literasi Sebuah Proses Kebudayaan

254
0
SHARE
Foto : Thomas Ara

ADONARA, Terasntt.com — Wakil Ketua DPRD NTT, Alex Ofong mengatakan, Literasi merupakan sebuah proses kebuda yang sudah turun temurun. Mulai proses kelahiran dan kehidupan setiap hari seorang sudah mengenal literasi.

” Literasi sejak lahir seorang anak mengenal dunia, di lahirkan dibesarkan, ungkapan cinta dari orangtua, keluarga dan masyarakat disaat itu anak sudah mengenal literasi. Semua proses dilakukan, dilalui dan dirasakan anak sebagai makhluk sosial , saat itu anak sedang berliterasi,”ungkap Alex saat membawakan materi bagi perserta kema pramuka Kwarcab Flores Timur di Desa Waiwuring, Adonara, Minggu (13/8/2017).

Ia menambahkan, bahwa sebagai anak sekolah kita harus menjadikan gerakan Baca Tulis sebagai gerakan sadar agar orang – orang dapat mengenal kita.

Demikian juga disampaikan, DR Lanny Koroh pegiat Literas, bahwa Literasi adalah buah dari rasa suka dan duka. Diawali dengan proses melihat, mendengarkan dan mengucapkan tanpa kekerasan.

Menurut Koroh Literasi bila dikaitkan dengan Pramuka yang artinya orang muda yang suka berkarya, kreatif dan inovatif maka literasi adalah gerakan suka. Gerakan menyelesaikan persoalan, gerakan mendengarkan yang berawal dari membaca, menulis dan berbicara dengan baik karena literasi dan pramuka lahir dari proses berbahasa.

“ Literasi lahir dalam pikiran dan dapat membentuk karakter seseorang. Sama dengan anak pramuka yang belajar dari alam lingkungan sekitar. Maka alam di bumi perkemahan sebagai lokasi berbagai kegiatan di sana juga karakter kita sedang dibentuk,” tegas Koroh.

Demikian juga disampaikan Pemimpin Redaks Cakrawala, Gusti Rikarno, Ketua Agupena Flotim Maksi Masan Kian dan Bernadus Beda, bahwa Literasi itu merupakan bangunan untuk berbagi, siapa diri kita, apa yang kita lihat dan kita rasakan lalu dituangkan kedalam tulisan.

” Jika seseorang ingin menjadi penulis ia harus awali dengan banyak membaca. Karena kekuatan menulis lahir dari membaca. Penulis terampil lahir dari pembaca yang terampil,” kata Gusti.

Ia berharap dengan kegiatan Pramuka itu anak-anak sedapat mungkin menulis apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dipikirkan, dan apa yang dirasakan selama perkemahan berlangsung.

” Tuangkan itu lewat tulisan. Mulailah menulis dari sekarang sampai kamu bernafaskan kata -kata,” tegas Gusti dalam materinya.

Masan Kian, ketika ditantang oleh moderator Pion tentang sejauh mana Agupena Flotim meneteskan deraian literasi di bumi Flotim sebagai sebuah gerakan,? Ia mentepisnya dengan memberikan kesaksianya dihadapan peserta, sebagai pengurus Agupena Flotim.

” Ada begitu banyak gerakan yang dilakukan untuk menghidupkan literasi di Flotim baik di sekolah dan lingkungan sosial kemasyarakatan. Literasi harus diaplikasikan. Sebagai anak sekolah harus banyak membaca dan merangkum isi bacaan. Karena dengan membaca banyak perilaku kita teruji. Proses keseharian kita, tuangkan dalam tulisan dan dibaca maka gerakan literasi sudah lahir dan teruji disana. Kita jadikan literasi sebagai gerakan dari dalam untuk melihat jendela dunia,” tegasnya.

Beda Keda, menggambarkan gerakan literasi dari kerangka kebijakan pemerintah. Bahwa Flotim sudah termasuk Kabupaten Literasi dan akan dikukuhkan 28 Oktober 2017 nanti. Untuk itu harapanya agar sekolah- sekolah harus giatkan gerakan literasi ini dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Sebagai contoh ada gerakan 15 menit membaca sebelum KBM berjalan.

Kegiatan ini dihadiri 2700 an peserta dari tingkat siaga, penggalang dan penegak bersama para Pembina dan pengurus Kwarcab Flotim. Dan dipandu Moderator Pion Ratuloli dengan gaya kocaknya.(thomas ara)

Berikan Komentar Anda.