Home Daerah Bagi-bagi Bunga Peringati 16HAKTP di Kota Kupang

Bagi-bagi Bunga Peringati 16HAKTP di Kota Kupang

59
0
SHARE

Kupang, Terasntt.com,- Dalam memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (16HAKTP) yang berlangsung dari  tanggal 25 November hingha 10 Desember 2018, Lembaga Rumah Perempuan Kupang, bersama beberapa lembaga dan kelompok  lain yakni Pondok Pergerakan, IHAP,  Kelompok laki-laki baru dan kelompok perempuan dari beberapa kelurahan di Kota Kupang, gelar kampanye dan pembagian bunga.

Kegiatan kampanye dan pembangian bunga ini digelar, Jumat (7/12) dengan mengambil jalur dari Undana lama hingga perempatan lampu jalan El Tari depan Kantor Gubernur.

Direksi Lembaga Rumah Perempuan Kupang, Libby Ratuarat Sinlaeloe yang diwawacarai  dilokasi kegiatan mengatakan, dalam peringati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan ada beberapa isu yang diangkat yakni  kekerasan seksual, human trafficking, perkawinan dini, keterlibatan laki-laki dalam pencegahan kekekarasan terhadap perempuan dan juga  kekarasan seksual bagi anak.

“Untuk kekerasan seksual terhadap anak kita lihat makin marak yang dampaknya dapat menpengaruhi  fisik, psikis, dan sosial, dimana anak lebih banyak tarik diri baik baik dilingkungan maupun disekolah,” katanya.

Selain itu, lanjutnya  kekerasan seksual terhadap anak banyak alat reproduksi yang rusak, sehingga melalui mementum ini masyarakat diajak untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan membantu korban kekerasan.

“Saya mengajak untuk bagiamana kita bersama-sama untuk mendengar suara korban kekerasan seksual.Karena tanpa sadar kita melihat banyak kekerasan yang telah dilakukan terhadap perempuan  yakni memegang bagian tubuh seseorang  seperti bokong, payudara dan candaan yang berbau seksualitas yang membuat orang tidak nyaman,” lanjutnya.Perbuatan ini dianggap biasa-biasa saja, pada hal.itu sudah masuk dalam kategori pelecehan.

“Tidak berhenti disitu saja ketika terjadi kekerasan seksual seperti pemerkosaan atau pelecehan kepada perempuan maka yang di salahkan adalah perempuan. Selalu ada anggapan dan asumsi yang menyudutkan perempuan atau korban perkosaan bahwa perkosaan terjadi karena perempuan memakai rok mini, karena perempuan memakai pakaian terbuka, karena perempuan berjalan sendiri di malam hari atau di tempat sepi. Kalau perempuan harus menutup auratnya agar tidak diperkosa atau dilecehkan, maka laki-laki harus diapakan agar tidak memperkosa atau melecehkan? Mari kita belajar berpihak pada korban,” jelasnya.

Berkaitan dengan momentun ini, dirinya mengajak semua pihak untuk menghargai perempuan dan tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan.(Yon)

Berikan Komentar Anda.