Home Hukrim Belum Selesai Dikerjakan, Jembatan Waitete Ambruk Diterjang Banjir

Belum Selesai Dikerjakan, Jembatan Waitete Ambruk Diterjang Banjir

480
0
SHARE

Jembatan Waitete Ambruk Diterjang Banjir/ foto dok

Kupang, terasntt.com — Jembatan yang dibangun pada alur banjir Waitete di Desa Kenotan, Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur ambruk diterjang banjir saat hujan perdana di wilayah tersebut, Rabu 30 September 2019 lalu. Jembatan yang dibangun dengan Dana Desa tahun anggaran 2019 senilai Rp 311 juta ini diduga kesalahan perencanaan dan pekerjaan asal jadi.

Beberapa warga Desa Kenotan yang menghubungi redaksi terasntt.com, Rabu (6/10/2019) menyatakan sangat kecewa dengan proyek pembangunan Jembatan yang tidak pro rakyat.

” Proyek itu dibangun hanya untuk menghabiskan dana saja tanpa memperhitungkan asas manfaat bagi kepentingan masyarakat. Perencanaan harusnya yang baik karena kerja untuk membangun desa sendiri. Dana cukup besar tapi hasilnya nihil, bisa saja lebih banyak untuk kepentingan pribadi dan kelompok saja,” ujar mereka dengan dana kesal.

Menurut mereka, sebelum jembatan itu dibangun pihak pengelola terlebih dahulu menimbun sirtu dari dasar alur banjir hingga pada ketinggian tertentu lalu dibangun pondasi dan memasang lubang alur banjir, kemudian ditimbun kembali sirtu di atasnya sebagai tikar jembatan,
sehingga terkesan jembatan tersebut dibangun di atas tanah numpang yang muda ambruk bila diterjang banjir.

Mereka juga mempertanyakan bangunan jembatan yang harusnya menggunakan besi beton dalam jumlah banyak, namun yang terjadi hanya belasan lonjor besi, sehingga kualitas bangunan itu diragukan.

” Memang jembatan itu tidak kuat karena dibangun di atas tanah numpang dan tanpa besi beton. Kami sangat menyesal karena dana begitu besar dikelola asal – asalan. Kami berharap pihak terkait bisa bersikap agar pengelolaan dana desa tepat sasaran dan kasus yang sama tidak terjadi kembali. Apalagi pada lokasi yang sama tahun 2018 ditimbun dengan puluhan reit batu dan tanah senilai Rp 75 juta juga mengalami nasib serupa disapu banjir. Na tahun ini dibangun jembatan juga nasib yang sama,” gumam mereka.

Tim teknis yang juga pendamping dana desa tingkat Kecamatan Adonara Tengah, Marianus Kia menyatakan perencanaan yang dibuatnya adalah gorong – gorong beton bulat, yang bisa dibuat sendiri maupun pengadaan langsung sebanyak tiga buah dengan panjang dua meter. Namun dalam pelaksanaan diganti dengan bentuk persegi dengan pasangan biasa.

” Rencana awal gorong – gorong bulat tetapi di rubah oleh PPK. Mereka telepon saya mau rubah dengan gorong – gorong persegi dan ketika saya ke lokasi sudah dikerjakan. Karena perencanaan gorong – gorong bulat, maka butuh timbunan tanah yang dipadatkan dan setelah pasang ditimbun lagi dan dipadatkan lagi,” kayanya.

Menurutnya, karena perencanaannya gorong – gorong bulat, maka besinya juga sedikit yang berukuran 12 mm.

” Kalau gorong – gorong persegi itu beli jadi, mungkin bisa bertahan tetapi dibuat sendiri, apalagi dibawanya pasangan biasa pasti ambruk ketika banjir besar,” ujarnya.

Sementara PPK yang juga Kaur Pembangunan Desa Kenotan, Urbanus Migo mengatakan, bahwa pasca ambruknya Jembatan Waitete, pihaknya sudah duduk bersama BPD mendiskusikan banyak hal, termasuk hal non teknis yang saat pelaksanaan proyek tidak dilakukan.

” Kami sudah diskusi bersama BPD dan disimpulkan, bahwa ambruknya jembatan itu akibat bencana sehingga saya sudaj melaporkan ke Pemerintah Kabupaten. Dana sebesar Rp 311 juta itu baru digunakan setengahnya dan baru tahap dua. Kami bersih keras dengan dana sisa tetap melanjutkan pekerjaan,” tegasnya.

Menurut Migo sapaan Urbanus Migo, bahwa ketika melihat RAB-nya gorong – gorong bulat, tetapi setelah dipelajari bersama Sekdes diketahui tidak ada item pembelajanaan pembuatan gorong – gorong sehingga diganti dan besipun hanya 13 konjor berukuran 12 mm dan 10 mm.

” Tapi kami berusaha untuk memaksimalkan keadaan karena tahun berjalan dan dana juga sudah turun. Jika dibuat perubahan anggaran, maka pekerjaan bisa berjalan tahun depan,” tegasnya.

” Besok (Kamis -red) kami evaluasi sisa dana persisnya itu berapa karena saya masih hitung dan rekap belanja yang lalu dan sisa hutang berapa sehingga sisanya itu yang digunakan untuk pembangunan lanjutan,” lanjutnya.

Menurutnya dalam RAB itu sudah dihitung keuntungan 10 persen untuk desa.

” Saya pernah sampaikan hal ini kepada Pak Elyas, bahwa dana ada sisa sehingga kemungkinan besar tahun ini juga langsung dibangun rabat. Di Kerong juga saya sampaikan, tapi semua belanja belum saya rampungkan,. Kebiasaanya keuntungan 10 persen sampai dengan saat tutup buku, maka dimasukan dalam anggaran tahun berikut. Yang lebih tahu Sekretaris Desa,” tegas Migo.

Ia mengatakan, bahwa belanja itu sesuai RAB tetapi kadang disesuaikan dengan kondisi lapangan.

” Kadang yang diminta tidak dibutuhkan dan yang tidak diminta tapi dibutuhkan. Contohnya besi hanya 13 lonjor tapi kebutuhan lapangan maka kita beli lagi,” ujarnya.(m45)

Berikan Komentar Anda.