Home Hukrim Belum Selesai Dikerjakan, Jembatan Waitete Ambruk Diterjang Banjir

Belum Selesai Dikerjakan, Jembatan Waitete Ambruk Diterjang Banjir

561
0
SHARE

Jembatan Waitete Ambruk Diterjang Banjir/ foto dok

Kupang, terasntt.com — Jembatan yang dibangun pada alur banjir Waitete di Desa Kenotan, Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur ambruk diterjang banjir saat hujan perdana di wilayah tersebut, Rabu 30 September 2019 lalu. Jembatan yang dibangun dengan Dana Desa tahun anggaran 2019 senilai Rp 311 juta ini diduga kesalahan perencanaan dan pekerjaan asal jadi.

Beberapa warga Desa Kenotan yang menghubungi redaksi terasntt.com, Rabu (6/10/2019) menyatakan sangat kecewa dengan proyek pembangunan Jembatan yang tidak pro rakyat.

” Proyek itu dibangun hanya untuk menghabiskan dana saja tanpa memperhitungkan asas manfaat bagi kepentingan masyarakat. Perencanaan harusnya yang baik karena kerja untuk membangun desa sendiri. Dana cukup besar tapi hasilnya nihil, bisa saja lebih banyak untuk kepentingan pribadi dan kelompok saja,” ujar mereka dengan dana kesal.

Menurut mereka, sebelum jembatan itu dibangun pihak pengelola terlebih dahulu menimbun sirtu dari dasar alur banjir hingga pada ketinggian tertentu lalu dibangun pondasi dan memasang lubang alur banjir, kemudian ditimbun kembali sirtu di atasnya sebagai tikar jembatan,
sehingga terkesan jembatan tersebut dibangun di atas tanah numpang yang muda ambruk bila diterjang banjir.

Mereka juga mempertanyakan bangunan jembatan yang harusnya menggunakan besi beton dalam jumlah banyak, namun yang terjadi hanya belasan lonjor besi, sehingga kualitas bangunan itu diragukan.

” Memang jembatan itu tidak kuat karena dibangun di atas tanah numpang dan tanpa besi beton. Kami sangat menyesal karena dana begitu besar dikelola asal – asalan. Kami berharap pihak terkait bisa bersikap agar pengelolaan dana desa tepat sasaran dan kasus yang sama tidak terjadi kembali. Apalagi pada lokasi yang sama tahun 2018 ditimbun dengan puluhan reit batu dan tanah senilai Rp 75 juta juga mengalami nasib serupa disapu banjir. Na tahun ini dibangun jembatan juga nasib yang sama,” gumam mereka.

Tim teknis yang juga pendamping dana desa tingkat Kecamatan Adonara Tengah, Marianus Kia menyatakan perencanaan yang dibuatnya adalah gorong – gorong beton bulat, yang bisa dibuat sendiri maupun pengadaan langsung sebanyak tiga buah dengan panjang dua meter. Namun dalam pelaksanaan diganti dengan bentuk persegi dengan pasangan biasa.

” Rencana awal gorong – gorong bulat tetapi di rubah oleh PPK. Mereka telepon saya mau rubah dengan gorong – gorong persegi dan ketika saya ke lokasi sudah dikerjakan. Karena perencanaan gorong – gorong bulat, maka butuh timbunan tanah yang dipadatkan dan setelah pasang ditimbun lagi dan dipadatkan lagi,” kayanya.

Menurutnya, karena perencanaannya gorong – gorong bulat, maka besinya juga sedikit yang berukuran 12 mm.

Berikan Komentar Anda.