Home Ekbis BPD Desa Kenotan Musyawarakan Kasus Wai Noret

BPD Desa Kenotan Musyawarakan Kasus Wai Noret

1899
0
SHARE

Ketua BPD Desa Kenotan, Alex Pati Raran

Adonara, terasntt.com — Kasus proyek Peningkatan SPAM Wai Noret, yang digugat mahasiswa asal Kecamatan Adonara Tengah, HIPANARA Kupang ke kejaksaan Tinggi Kupang, kembali menjadi sorotan publik masyarakat penerima manfaat di wilayah Kecamatan Adonara Tengah.

Masyarakat yang merasa dirugikan, yang saban hari sejak proyek ini berjalan memenuhi kebutuhan air bersih dengan membeli air, tiga jerigen seharga Rp.10.000.

Persoalan ini membuat Badan Permusyawaran Desa (BPD) Desa Kenotan sebagai salah satu desa penerima manfaat dari lima desa lainnya tidak tinggal diam.

Akhir Desember 2019 lalu, BPD Desa Kenotan mengadakan musyawara terbuka di Desa Kenotan untuk membahas persoalan Wai Noret yang tidak mengalir itu. Masyarakat bertekad melakukan konsolidasi diantara desa – desa penerima manfaat untuk meminta pertanggungajawaban pemerintahan Kabupaten Flores Timur terkait persoalan Wai Noret itu.

Sebabnya, menurut masyarakat, air yang sebelumnya dikelola oleh Gereja Paroki Lite berjalan lancar dan dinikmati masyarakat. Bahkan masyarakat setempat mempertanyakan, pengadaan air Wai Noret sebelumnya oleh Gereja Paroki Lite hanya menggunakan anggaran di bawah Rp. 500.000.000, airnya mengalir dan dinikmati masyarakat, sedangkan proyek Peningkatan SPAM yang menelan anggaran diatas 2 miliar airnya tidak lagi dinikmati masyarakat.

Pertemuan terbuka itu dihadiri tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan masyarakat umum serta mahasiswa dari wilayah Adonara Tengah.

Ketua BPD Desa Kenotan, Alex Pati Raran mengatakan, bahwa pertemuan itu dilaksanakan atas kehendak Lewo tanah dan sebelumnya tidak direncanakan. Kebetulan anak-anak mahasiswa HIPNARA Kupang pada liburan sehingga BPD Desa Kenotan mengambil kesempatan utuk melakukan musyawara ini.

Menurutnya, masyarakat selama ini sudah sangat menderita akan kebutuhan air bersih dan kebetulan musim liburan mahasiswa maka BPD menyahutinya dengan menyelenggarakan musyawara membahas persoalan Wai Noret.

“ Pertemuan ini khusus membahas air minum SPAM Wai Noret, yang sejak dibangun tahun 2017 lalu, airnya tidak jalan. Kehidupan kita sebagai masyarakat sudah sangat menderita. Air minum sejak pelaksanaan proyek SPAM Wai Noret, masyarakat membeli 3 jerigen 10.000. 1 (satu) kepala keluarga dalam sebulan, mengeluarkan ratusan ribu bahkan juta rupiah hanya untuk kebutuhan air minum. Ini sangat membuat masyarakat menderita,” ungkap Alex.

Alex mengatakan, bahwa penderitaan masyarakat itu karena ditipu oleh pemerintah daerah dengan pelaksaan proyek SPAM ini. Karena itu, dirinya berharap ada gerakan bersama untuk menuntut persoalan Wai Noret.

“ Mengikuti berita media masa dan apa yang disampaikan anak-anak HIPANARA, kita ini di tipu. Perencanaan teknis tidak diikuti oleh pelaksana proyek, akibatnya air tidak keluar. Dan karena itu, hari ini kita duduk bersama membahas persoalan Wai Noret, supaya kita jangan terus ditipu dan harapannya adalah air harus sampai lagi di wilayah kita. Proses hukum yang dilakukan HIPANARA Kupang biarkan terus berjalan dan kita masyarakat berkewajiban menuntut pemerintah daerah Flores Timur mengembalikan air Wai Noret mengalir seperti sebelum proyek SPAM berjalan,” tegas Alex Pati Raran.

Dalam kesempatan itu, Alex menyampaikan dukungan kepada HIPANARA Kupang yang peduli terhadap penderitaan masyarakat di wilayah Kecamatan Adonara Tengah.

Berikan Komentar Anda.