Home Politik Daniel Banunaek: Golkar Harus Rayakan Perbedaan

Daniel Banunaek: Golkar Harus Rayakan Perbedaan

305
0
SHARE

Oleh: Grace Gracella
Sekretaris Tim Buku “Jejak Golkar NTT”

Golkar mesti merayakan perbedaan. Menjadi rumah bersama segenap warga tanpa menanyakan apa suku dan agamanya, dari mana asalnnya.
Demikian inti pesan Daniel Banunaek dalam percakapan dengan tim buku “Jejak Golkar NTT”di Kupang, pertengahan November 2018.
Tokoh kelahiran Soe, Timor Tengah Selatan (TTS), 26 Desember 1938 ini adalah sesepuh Golkar yang tetap “kuning” hingga kini, di usianya 80 tahun.
Merayakan perbedaan, sungguh sebuah ajakan yang harus digarisbawahi. Sebab, senada dengan visi–misi Golkar sejak dilahirkan, 54 tahun lalu. Spirit itu relevan dengan NTT yang kohesi sosialnya “berbakat” rentan. Kondisi itu sebenarnya merupakan imbas dari politik karantina (Staatsblad 1913) peninggalan Hinda Belanda, 105 tahun lalu (Ben Mboi melalui buku: Ben Mboi Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja – terbitan Kepustakaan Populer Gramedia/KPG, 2011).
Mantan Bupati TTS periode 2003 – 2008 ini mengisahkan, dirinya bergabung dengan Golkar pada 1960-an atau jelang pemilu 1971 (Pemilu pertama bersama Golkar). Saat itu, Golkar masih berstatus Sekretariat Bersama (Sekber Golkar). Ia mengakui, bergabung dengan Golkar bersama Kusa Nope, Bupati TTS ketika itu. Sejak saat itu, keduanya menjadi tokoh pertama yang mengenalkan Partai Beringin di TTS.

Ambil alih berbuah manis

Dikisahkan Daniel, sekitar 50 tahun lalu, ada gerakan dan arahan dari pusat agar secepatnya membentuk Sekber Golkar hingga kabupaten bahkan kecamatan. Awalnya, Ketua Sekber tingkat kabupaten langsung dikendalikan Komandan Kodim atau Dandim setempat. Posisi itu menyulitkan TTS karena masih menjadi bagian dari Kodim Kupang di Kota Kupang. Rentangan komando Kodim Kupang di Soe (kota Kabupaten TTS) ketika itu dipimpin seorang Komandan Rayon Militer atau Danramil, dulu disebut Bintara Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat atau Buterpra.
Menanggapi arahan itu, Bupati Kusa Nope langsung memanggil Daniel. Ketika itu, Danel menjabat Sekda TTS. Ia segera menghadap. “Sekber Golkar itu apa?” Begitu tanya Kusa Nope. Karena Daniel juga belum terlalu mengetahui apa itu Sekber Golkar, Kusa Nope langsung memerintahkan stafnya agar segera menghubungi Bupterpra TTS. Bupati Kusa Nope tampak agak lega setelah Buterpra mengaku tahu dan menjelaskan perihal Sekber Golkar. Buterpra juga memberitahukan, dialah yang ditunjuk sebagai Ketua Sekber Golkar untuk Kabupaten TTS.
Sejenak merenung, Kusa Nope bersuara. Intinya meminta kepada Buterpra agar jabatan Ketua Sekber Golkar TTS diserahkan kepada Daniel Banuanek. Tujunnya agar pembentukan Sekber Golkar di TTS bisa lebih mudah dan cepat. Nope meyakinkan, posisi Daniel sangat membantu mempercepat pemantapan berbagai persiapan menyongsong pemilu 1971. Permintaan itu disetujui dan jadilah Daniel Banunaek sebagai ketua perdana Sekber Golkar TTS.
Langkah Kusa Nope mengambil alih kepemimpinan Sekber Golkar di TTS, ternyata berbuah manis. Terbukti, hasil pimilu 1971, Sekber Golkar TTS melambung tinggi, mereka meraih kemenangan 89 persen. Kabupaten lain di NTT hanya meraih suara sekitar 60-an persen. “Hasil ini sangat luar biasa karena pemilu 1971 itu adalah pemilu pertama bagi Golkar,” ujar Josep Christian, salah satu sesepuh Golkar TTS dalam suatu percakapan dengan tim buku di Soe, Rabu, 24 Oktober 2018.
Josep Christian dan mantan Bupati TTS tahun 1980-an, Cornelis Tapatab secara terpisah mengakui, Golkar masa lalu memang selalu berjaya di TTS. Terutama selama Orde Baru, raihan kemenangan Golkar pernah hampir menyentuh 100 persen. Kemenangan signifikan itu lebih karena keberpihakan Golkar pada masyarakat strata bawah. Pendekatan budaya, menjadi senjata Golkar di era itu.
“Orang TTS itu kalau mau merebut simpatinya melalui pendekatan budaya seperti oko mama,” papar Cornelis Tapatab, sesepuh Golkar NTT, yang adalah Pembantu Gubernur NTT Wilayah Utara di Ende, tahun 1990-an.
Sejak pemilu 1971, Golkar di TTS memang selalu berada pada puncak kejayaan. Kekuatan awalnya karena didukung sejumlah tokoh kunci di kabupaten itu. Mereka di antaranya, Kusa Nope, Piet A Tallo (mantan Bupati TTS dua periode dan mantan Gubernur NTT, juga dua periode), Daniel Banuaek, Josep Christian, Cornelis Tapatab, Piet Sabuna, J Tahun, Daniel Taneo dan banyak lagi.
Pendekatan yang menyentuh rakyat dan budayanya, menghantar Golkar terus berjaya hingga ke beberapa daerah selain TTS, sebut misalnya Manggarai, Flores Timur dan Ngada yang juga menjadi lumbung “kuning”.
“Di dalam rumah kita, Golkar, tentu saja tidak bisa harus menjadi satu dari kemajemukannya. Kita dari latar belakang berbeda. Beda agama, suku dan lainnya. Tetapi kita adalah anak kandung dari rahim yang satu, Flobamora. Flobamora itu harus sungguh-sungguh jadi spirit, tak sekadar teritori,” pungkas Daniel!***

Berikan Komentar Anda.