Home Hukrim Diduga ada Provokator dalam Kasus Penganiayaan Staf Puskesmas Ponu 

Diduga ada Provokator dalam Kasus Penganiayaan Staf Puskesmas Ponu 

1340
0
SHARE

Kefamenanu,  Terasntt. com — Kasus penyerangan dan penganiayaan secara brutal terhadap staf Puskesmas Ponu,
Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Timotius Nggadas (40) Selasa (20/03/2018) siang diduga ada aktor intekektual dibaliknya. Sekelompok pemuda secara brutal menyerang korban yang sedang menjalankan tugas pelayanan.

Akibatnya korban mengalami luka parah di bagian wajah, kepala dan anggota tubuh lainnya.

Pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Ponu belum bisa dikonfirmasi langsung terkait kasus ini, namun laporan tertulis yang diterima media ini bahwa kejadian penyerangan dan penganiayaan itu berawal dari ajakan seorang pelaku bernama Rudi Lalian (36) mengundang teman – temannya kemudian berteriak mengatakan korban berada dalam ruangan dan semua langsung masuk ke ruangan korban kemudian beramai -ramai melakukan pengeroyokan terhadap korban secara brutal. Korban yang tidak mengetahui apa masalahnya tidak berhasil melarikan diri karena dikepung para pelaku dalam ruangan, korban baru diselamatkan beberapa rekan kerjanya dengan cara memisahkan para pelaku dari korban yang sudah tak berdaya dan bermandi darah.

Diduga para pelaku diprovokasi oleh pihak lain untuk menyerang korban, lantaran belum lama ini kepala Puskesmas Ponu telah mengeluarkan surat teguran kepada beberapa stafnya menyangkut disiplin Kepegawaian dan terjadi keributan di dalam ruang kerja antara Kepala Puskesmas Ponu, Hendrikus Nino dan tiga staf yang masuk mempertanyakan surat teguran yang mereka terima.

Dua orang saksi yang dikonfirmasi media ini pertelepon, pada Jumat (23/03) membenarkan adanya aksi penyerangan tersebut. Menurut para saksi, penyerangan itu terjadi di dalam ruang kerja korban di Puskesmas Ponu. Padahal sebelumnya sudah diarahkan untuk tidak membuat keributan dalam lingkungan kerja Puskesmas Ponu karena sementara berlangsung pelayanan medis kepada masyarakat desa setempat. Para saksi juga sempat meminta para pelaku penyerangan untuk tidak main hakim sendiri apalagi belum mengetahui pokok permasalahan yang sebenarnya.

*Kasus penyerangan Berawal dari Pembahasan Surat Teguran yang dikeluarkan Kepala Puskesmas Ponu*

“Sebagai saksi saya perlu jelaskan kronologisnya, dimulai dari surat teguran yang kami terima. Begini ibu wartawan, kami 9 orang staf mendapat surat teguran dari  Kepala Puskesmas dengan tembusan ke Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan Kadis kesehatan. Dalam surat teguran tersebut kami dikatakan tidak siplin, tidak masuk kantor, tidak ikut apel pagi. Berdasarkan surat yang kami terima itu, pada Selasa pagi (20/03) sebelum kejadian penyerangan dan penganiayaan itu, saya dan dua orang rekan saya yakni korban pak Timotius Nggadas dan ibu Magdalena Sius, masuk ke ruang bapak kepala untuk klarifikasi. Sampai di dalam, korban bertanya duluan soal surat teguran yang diterima oleh kami dan korban juga meminta penjelasan dari pak kepala menyangku disiplin kepegawaian seperti apa yang dia maksudkan sehingga kami dilaporkan sampai ke Bupati. Disitu, pak kepala menjawab bahwa kami tidak pernah ikut apel pagi. Korban minta penjelasan lebih jauh soal disiplin kepgawaian, tapi oleh pak kepala dianggap pembangkang dan dibilang “Saya kepala puskemas jadi kalian harus tunduk dan taat”, ungkap
saksi Ludovikus Meko meniru ucapan kepala Puskesmas. Dan saat itu pak kepala bicara sambil tunjuk jari ke arah kami. Merasa tidak perlu sampai ada keributan apalagi menunjukan sikap tidak sopan dari seorang pimpinan, korban dengan tenang menurunkan tangan pak Kepala. Pak kepala tidak terima baik dan marah mulai berlagak seperti mau berkelahi. saya dan ibu Lena langsung pisahkan mereka. Kamipun langsung keluar dari ruangan dan pak kepala mengancam akan laporkan kami ke Polsek Ponu. Tapi karena dia belum melapor, korban ajak saya duluan lapor ke Polsek. Tapi saat itu juga ternyata pak kepala sudah telpon ke seseoarang dan terdengar ucapan kalimat, “Mari sudah dia ada di sini”. Kami tidak menggubris dan langsung menuju ke Polsek, pulang dari Polsek kami kembali ke kantor kasih pelayanan ke masyarakat bersamadengan pak dokter Fian. Tiba-tba ada sekelompok orang masuk dan mencari korban. Mereka sempat diihadang petugas lain karena masih ada pelayanan medis. Mereka tidak puas, dan melapor ke Polsek juga. Dari Polsek mengarahkan mereka baik-baik untuk pulang karena mereka tidak tau masalah yang sebenarnya. Tapi balik dari Polsek mereka kembali ke Puskesmas, teriak maki – maki (pukimai, tolo, orang pendatang, dan lain – lain). Yang melampiaskan amarah dan mengeluarkan kata – kata makian itu adalah kelompok keluarga dari pak Kepala. Ada satu laki-laki bernama Rudi Lalian, dia  masuk daripintu depan  menuju saya, korban dan beberapa staf. Dia menuju korban dan bilang “Oooo ini dia, mari kita pukul dia sudah. Keroyokan dan Penganiayaanpun terjadi. Kami pertanyakan, dimana pak kepala. Dia yang angkat telepon, menelpon orang – orangnya kemudian menghilang dari tempat kejadian. Ada suara beberapa staf perempuan meminta pak kepala agar keluar dari ruang kerjanya, namun ternyata pak kepala sudah meninggalkan kantor”, kisah Lodovikus.

Saksi lainnya, Nikodemus Nino menjelaskan Kasus penyerangan itu terjadi dua kali dalam sehari. “Ibu wartawan, perlu diketahui bersama bahwa kasus penyerangan itu terjadi dua kali di hari yang sama, Selasa (20/03). Pertama saat para pelaku datang tidak sempat terjadi bentrok fisik. Saat datang pertama mereka ditegur kemudian mereka meninggalkan kantor. Tapi tidak lama kemudian mereka datang lagi dan langsung menyerang korban ke dalam kantor. Saya yang kebetulan sedang mengantar ibu ke Puskesmas, melihat kejadian itu dan saya langsung turun dari atas motor meleraikan mereka. Sayapun sempat melarang mereka membuat keributan apalagi bertindak main hakim sendiri namun tidak digubris. Setelah keributan, mereka meninggalkan puskesmas. Saya bertanya kepada saksi lainnya, kasus itu terkait masalah apa, jawaban saksi pertama berawal dari keributan yang ditimbulkan sendiri oleh pak Kelapa. Jadi dugaan kami sementara ini ada penyampaian informasi yang salah, yang tidak betul dari Kepala Puskesmas sendiri sehingga para pelaku datang. Mereka para pelaku kejahatan itu sebagian keluarga dan sebagian bukan warga Oemanu. Didimus Us Abatan dengan Rudi Lalian bukan warga desa Oemanu dan kemungkinan ada hubungan keluarga dengan kepala Puskesmas sehingga begitu ditelepon mereka langsung berani datang.

Sebagian warga yang dikonfirmasi juga melihat bahwa provokator itu datang dari kepala Puskesmas sendiri, pasalnya diketahui saksi lainnya bahwa kepala Puskesmas keluar dari ruangan kerjanya dan menelpon seseorang kemudian mengatakan “dia ada di sini”, Setelah menelpon, para pelaku kejahatan itu mendatangi puskesmas dan melakukan penyerangan dan penganiayaan secara brutal sedangkan kepala Puskesmas sendiri menghilang dari TKP.

Adapun pengakuan dari seorang staf Puskesmas Ponu, saat mengetahui kepala Dinas akan mendatangi TKP, Hendrikus Neno mulai menciptakan modus baru. Ia pura – pura sakit dan berbicara seolah dirinyalah yang menjadi korban dalam kasus. “Pak kepala tiba – tiba pakai trik sakit dan minta pak dokter yang bertugas di sini untuk melakukan visum atas dirinya, namun ditolak dokter. “Kondisi bapak kepala sehat dan baik, saya lihat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki tidak ada masalah. Terus mau kita visum apanya”, ucap seorang staf meniru perkataan dokter Fian. Namun pak kepala terus mendesak dokter Fian untuk menerbitkan surat visum ke RSU Atambua. Permintaan rujukan Neno diterima dokter Fian, namun pak dokter tulis itu atas permintaan pak Kepala sendiri”, kisah YS.

Lanjutnya, “Pak kepala yang benar saja jadi pimpinan, bijaksana sedikit. Sudah tidak bisa membuktikan ketidaksiplinan staf masih mau selamtkan diri lagi dalam kasus ini. Pak Kepala harus bertanggungjawab atas kasus ini, karena dialah yang menghasut orang luar untuk berani masuk menyerang staf di kantor ini. Dia juga harus banyak koreksi diri, jangan untuk menutup kebobrokannya dia lempar kesalahan ke orang lain”.

Sesuai informasi yang diterima media ini, proses hukum kasusnya sementara berjalan, dengan pelapor korban sendiri dan tiga orang saksi telah diambil keterangan. Barang bukti yang berhasil diamankan pihak Polsek Ponu berupa satu buah balok yang dipakai para pelaku untuk menyerang korban.
Korban penyerangan dan penganiayaan, Timotius Nggadas telah menjalani visum di RSU Atambua kabupaten Belu dan sementara masih berstatus pasien rawat jalan sehingga belum bisa menjalankan tugas kedinasannya.(dit)

Berikan Komentar Anda.