Home Politik Golkar NTT :  Tak Perlu Percepatan Munas, Kembali pada Periodesasi

Golkar NTT :  Tak Perlu Percepatan Munas, Kembali pada Periodesasi

395
0
SHARE

Kupang, terasntt.com — Partai Golkar NTT, saat ini fokus dalam pembahasan dan penentuan pimpinan di lembaga legislatif serta persiapkan menuju pilkada serentak 2020, juga agenda organisasi plus kaderisasi. Tidak perlu ada percepatan Musyawarah Nasional (Munas) tetap kembali pada periodesasi, mekanisme plus jadwal normal.

Demikian penyataan sikap DPD I Golkar NTT yang dilansir terasntt.com, Senin (27/5/2019).

Penyataan sikap tertulis yang disampaikan Ketua DPD I Golkar NTT, E. Melkiades Laka Lena bersama sekretaris, Inche DP Sayuna kepada media ini terkait wacana percepatan Munas Golkar serta respon berbagai pihak terkait hal dimaksud.

Adapun beberapa alasan yang mendasari  DPD I Golkar NTT mengambil langkah politik, bawa  Pertama : DPD PG Prop NTT telah melaksanakan Pleno tanggal 11 Mei membahas hasil Pileg dan Pilpres 2019 yang melibatkan semua pengurus dan Wantim serta melaksanakan rapat koordinasi DPD PG NTT di Kupang sejak tanggal 23 – 24 Mei. Juga melibatkan semua pengurus DPD II se NTT, para Caleg DPR RI, DPRD Prop dan Caleg terpilih DPRD kabupaten/ kota se NTT.

Kedua : DPP PG telah melaksanakan silaturahmi dan konsultasi dengan Ketua dan Sekretaris DPD PG Prop se Indonesia di Jakarta tanggal 19 Mei membahas hasil Pileg dan Pilpres 2019 di seluruh Indonesia dilanjutkan buka puasa bersama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

Ketiga :  Kesimpulan dalam dua pertemuan di DPD PG NTT dan juga di DPP Partai Golkar relatif sama, baik dalam aspek catatan hasil Pileg 2019 dan rekomendasi untuk Pilkada serentak Tahun 2020 dan Pilpres 2024 mendatang.

Keempat :  Catatan terkait hasil Partai Golkar dalam Pileg dan Pilpres 2019 antara lain, kena dampak konflik intern Partai Golkar sejak Era Aburizal Bakrie hingga terbelah menjadi dua kepengurusan dengn Agung Laksono berlanjut ke Setya Novanto lalu ke PLT Ketum Idrus Marham dan sekarang Airlangga Hartarto membuat konsolidasi internal tidak berjalan maksimal.
Bahwa energi dan waktu selama periode 2014 sampai 2019 habis hanya untuk selesaikan konflik kecuali periode terakhir dipimpin AH suasana mulai  kondusif. Juga kasus korupsi yang menimpa pimpinan partai baik di pusat dan daerah membuat citra Partai Golkar dan daya juang kader menurun.

Kelima :  Catatan positif terkait Pileg dan Pilpres 2019 pertama kalinya Partai Golkar menang dalam Pilpres sejak era reformasi. Semua potensi Golkar solid bergerak di lapangan baik pengurus dan para caleg serta para senior Pak Akbar Tanjung, Pak Abirizal Bakrie dan Pak Agung Laksono. Suasana dan kerja Golkar kali ini lebih semangat untuk membuktikan Partai Golkar masih merupakan partai besar di Indonesia juga di daerah.

Keenam :  Semua pihak menyadari keberhasilan Partai Golkar ditentukan oleh soliditas internal dan dalam masa kepemimpinan AH bisa merangkul dan menggerakkan berbagai pihak untuk kepentingan Golkar dan Indonesia.

Ketujuh : Bahwa pertemuan dua kali di tubuh DPD PG NTT dan DPP Partai Golkar memberi rekomendasi bagi pengurus DPP PG untuk menata kembali organisasi dan kaderisasi sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan rakyat. Periode kepengurusan berjalan normal dan tinggal diputuskan pembenahan dari atas ke bawah atau bawah ke atas.

Kedelapan : Pembahasan dan pro kontra jadwal Munas dikembalikan pada periodesasi normal sehingga tetap jaga soliditas partai di pusat maupun daerah.(*/M45)

Berikan Komentar Anda.