Home Nasional Gus Dur: ‘Sobat Israel dari Dunia Islam’

Gus Dur: ‘Sobat Israel dari Dunia Islam’

363
0
SHARE

Jakarta, Terasntt.com – Surat kabar Haaretz di Israel menyematkan julukan pada Abdurrahman Wahid sebagai “ A Friend of Israel in the Islamic World” lewat judul sebuah wawancara pada 2004. Micha Odenheimer, si wartawan, membuka wawancara dengan pernyataan begini:

“Anda di Israel dikenal sebagai teman. Ini cukup tidak lazim untuk seorang pemimpin Islam.”

Pernyataan Micha tentu wajar. Sebab, sebagian pemimpin Islam memiliki kecenderungan menentang Israel, apalagi jika sudah terkait konflik antara Israel dan Palestina. Namun, tidak dengan Gus Dur.

Gus Dur memang unik. Ia seorang tokoh Islam di Indonesia. Ia lahir dari keluarga kiai dari pondok pesantren tradisional. Meski demikian, ia jauh dari stereotip bahwa pemimpin Islam harus memusuhi Israel. Sebaliknya, ia dekat dengan Israel.

Jauh sebelum ia menjadi presiden, Gus Dur sudah dekat Israel. Pada 1994, ia pernah diundang oleh Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian damai antara Israel dan Yordania.

Kisah itu ditulis oleh Djohan Efendi dalam Damai Bersama Gus Dur (2010). Djohan menceritakan bagaimana Gus Dur menangkap hasrat damai dari orang-orang Israel, tidak peduli latar belakangnya. Gus Dur bertemu dengan orang Yahudi, Arab, muslim, Kristen, dan ia merasakan hal yang sama.

“Mereka mengatakan kepada Gus Dur, hanya mereka yang berada dalam keadaan perang yang bisa merasakan apa makna kata damai,” tulis Djohan

Gus Dur bukan tidak tahu bagaimana penderitaan rakyat Palestina. Ia paham benar konflik yang terjadi di sana. Justru karena itu, pada saat ia menjadi presiden, Gus Dur mewacanakan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Gagasan Gus Dur sederhana, Indonesia tidak mungkin bisa berperan dalam perdamaian Palestina dan Israel jika tidak menjalin hubungan diplomatik dengan keduanya.

Selain itu, Indonesia punya kepentingan taktis. Dalam Damai Bersama Gus Dur (hlm. 88), ada dua alasan yang diutarakan Gus Dur mengapa ia ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Pertama, Gus Dur ingin memastikan kapitalis George Soros, yang keturunan Yahudi, tidak mengacaukan pasar modal. Kedua, ingin meningkatkan posisi tawar Indonesia di Timur Tengah, sebab selama ini Timur Tengah tidak pernah membantu Indonesia menghadapi krisis.

Terpikat Yahudi

Mahfudz Ridwan, sahabat Gus Dur, pernah menuturkan cerita tentang ketertarikan Gus Dur terhadap Yahudi dan Israel. Cerita Mahfudz itu dituliskan ulang dalam Satu Jam Lebih Dekat dengan 11 Tokoh Paling Inspiratif di Indonesia (2010).

Saat masih kuliah di Bagdad, Irak, Gus Dur memiliki teman seorang Yahudi, namanya Ramin. Ramin adalah seorang jurnalis yang mencari penghasilan tambahan dengan bekerja di toko pakaian sebagai penerjemah. Keduanya sama-sama bekerja di sana dan menjadi akrab.

Dari Ramin, Gus Dur mendalami garis politik, budaya, dan ekonomi Yahudi. Satu hal yang membuat Gus Dur penasaran adalah bagaimana cara Yahudi bisa memengaruhi elite Amerika hingga kini. Gus Dur melihat Yahudi sebagai kekuatan besar yang mesti dipertimbangkan.

“Kita mesti belajar dari semangat orang-orang Yahudi,” kata Gus Dur.

Kemajuan bangsa Yahudi itu membuat Gus Dur ingin mengirim banyak sarjana untuk belajar di Israel. Beberapa hal yang perlu dipelajari dan dicontoh Indonesia adalah soal tata pemerintahan, politik, ekonomi, dan pertanian Yahudi yang lebih maju dari Indonesia. (hlm. 8)

Ide Gus Dur mempelajari bagaimana Yahudi bekerja ini pula yang bikin ia berbeda. Padahal, dalam Alquran jelas bahwa Yahudi adalah musuh orang-orang Islam. Namun, anggapan itu dibantah oleh Gus Dur. Dalam wawancara dengan Haaretz, ia mengatakan Alquran perlu ditafsirkan ulang untuk membaca perubahan. Menurut Gus Dur, Alquran adalah dokumen sejarah.

Gus Dur memberikan contoh bagaimana Alquran harus ditafsirkan ulang. Pada saat Benazir Bhutto menjadi presiden Pakistan, seorang ulama tinggi dari Pakisatan menemui Gus Dur di kantor Nahdlatul Ulama. Ulama itu meminta Gus Dur membuat fatwa melawan Bhutto. Alasannya, Bhutto adalah seorang perempuan dan dalam Quran disebutkan sebuah bencana ketika wanita menjadi pemimpin.

Gus Dur menjawab, “Pada saat Quran ditulis, pemimpin harus memimpin pasukan dalam perang, harus berkendaraan dengan karavan menuju padang pasir, dan seterusnya. Itu mengapa mereka semua adalah laki-laki. Kepemimpinan menjadi dipersonalisasi. Sekarang ini adalah institusi.”

Cara yang sama pula digunakan Gus Dur untuk menanggapi pernyataan wartawan Haaretz, Micha Odenheimer, atas julukan dia sebagai “sobat Israel.” Ia memberikan tanggapan yang mungkin tidak akan keluar dari mulut ulama Islam Indonesia lain.

“Saya pikir ada kesalahan persepsi bahwa Islam bertentangan dengan Israel. Ini semua karena propaganda Arab. Kita harus membedakan antara Arab dan Islam,” kata Gus Dur. (tirto.id – krs/fhr)

Berikan Komentar Anda.