Home Humaniora Hari Pahlawan, Bagaimana Kaum Muda Memaknainya

Hari Pahlawan, Bagaimana Kaum Muda Memaknainya

126
0
SHARE

Oleh : Erik Sanu

Soe, terasntt.com — 10 November dipilih sebagai Hari Pahlawan karena pada hari itu pasukan Indonesia melakukan perang pertama dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia dan menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Momentum peperangan di Surabaya,Jawa Timur itu menjadi legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer.

Beberapa pucuk senjata api dan bambu runcing adalah alat untuk berperang namun tak menjadikan para pejuang kita gentar dan ciut melawan penjajah.

Bung Tomo yang adalah salah satu tokoh kunci mampu mengobarkan semangat juang rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Itu merupakan sekilas tentang perjuangan para pahlawan bangsa ini dalam meperoleh kemerdekaan Indonesia.

Mengutip kata Bung Karno “Negara Yang Besar Adalah Yang tidak melupakan Jas Merah” Artinya tidak akan melupakan sejarah suatu bangsa tersebut yang mana para pahlawan rela mengorbankan hidupnya demi menjaga dan mempertahankan negara Indonesia.

Kita tidak bisa menjadi bangsa dan negara Indonesia seperti sekarang, jika tanpa jasa jasa mereka.
Karena itu kita harus mampu mengenang dan menghargai pejuangan, pengorbanan para pahlawan dan pemimpin bangsa yang menjadi simbol negara Indonesia.

itulah sebabnya, sejarah bangsa ini telah mendokumentasikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah “hadiah” dari bangsa lain, melainkan hasil dari perjuangan dan pengorbanan jiwa & raga para pejuang & “founding fathers” (B
bapak – bapak bangsa) se-Nusantara dengan aneka ragam latar belakangnya.

Berjuang dan berkorban, sejak periode “merebut kemerdekaan” hingga periode kritis ketika harus “mempertahankan kemerdekaan” yang telah diproklamasikan.

Namun, sangat disayangkan mutu peringatan itu terasa menurun dari tahun ke tahun, terutama generasi muda. Generasi muda sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan.

Hari Pahlawan yang selalu kita peringati hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini.

Akan menjad ironi bila memperingati hari pahlawan sebatas seremoni saja tanpa mengambil tauladan dari nilai-nilai perjuangan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai generasi muda, kita harus mampu memberi makna baru atas tonggak bersejarah kepahlawanan dengan mengisi kemerdekaan sesuai perkembangan zaman. Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan.

Terkhusus di Kabupaten TTS kini sedang membutuhkan banyak pahlawan, ya pahlawan untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, bersih dan bebas korupsi dan pelbagai ketimpangan lainnya.

Daerah kita sedang diwarnai beberapa kasus korupsi yang membuat publik muak dan terus bertanya kapan hukum bisa membuktikan siapa yang harus bertanggung jawab.

Mengingat korupsi merupakan akar dari kehancuran sebuah daerah karnanya sebagai kaum muda harus punya kepedulian untuk berani bersuara, berjuang dan jangan berpangku tangan.

Karekter seorang pahlawan adalah jujur, berani, dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita berjuang setidaknya menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga serta daerah ini. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Setidaknya kita harus mampu bertanya pada diri sendiri apakah rela mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain ? (*)

Berikan Komentar Anda.