Icha Randa, Sastrawan Cilik Bercita – Cita Jadi Guru

Icha Randa, Sastrawan Cilik Bercita – Cita Jadi Guru

455
0
SHARE

SETIAP kita manusia dilahirkan memiliki talenta berbeda. Talenta itu ada dan bisa dikembangkan oleh setiap kita melalui berbagai cara. Walau demikian tidak semua orang mampu mengembangkan telenta yang dimiliki itu.

Tak seperti Maria Claricha Bace Randa yang memiliki talenta sebagai sastrawan cilik, ia dikaruniai talenta itu sejak duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD) Katolik 1 Lewoleba, Kabupaten Lembata.

Bakat yang dimiliki Icha sapaan Maria Claricha Bace Randa sejak kecil ini terus diasa ditekuni hingga akhirnya mampu mengaspirasi dan menuntunnya menciptakan sebuah buku dengan judul “Desir Sastra Kuntum Pagi” pada akhir titik juangnya di bangku SD medio Mei 2017.

Buku hasil karya putri kelahiran Lewoleba 11 Agustus 2005 ini mendapat apresiasi luar biasa oleh para sastrawan ternama NTT ketika diluncurkan tepat 100 hari wafatnya sastrawan pertama NTT Gerson Poyk di Kupang beberapa waktu lalu.

Marsel Robot dan Mesra Pelandou, dua satrawan ternama NTT ini tak mampu berkomentar ketika membeda buku yang diluncurkan Icha Randa putri berdarah Mbai, Kabupaten Nagakeo dan Nagawutun Lembata ini.

Kehebatan putri pertama dari dua bersaudara pasangan David Randa dan Maria Dolorosa Iwan semakin terkenal ketika dipercayakan ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia (TMI) Melki Laka Lena membuka sayembara ” Ayo Bangun NTT” tingkat Kabupaten Lembata di Lewolwba beberapa waktu lalu.

” Icha ini siswa sekolah dasar yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang satra. Dia bisa menjadi tokoh dan panutan bagi anak – anak, juga masyarakat NTT untuk mengembangkan potensi diri membangun NTT dengan beragam budaya,” kata Laka Lena ketika bertatap muka dengan Icha bersama ibunya serta adik, juga penyunting buku Desir Sastra Kuntum Pagi, Gerady Tukan di kediamannya di Kupang pekan lalu.

Icha putri berparas cantik, hitam manis ini dengan polos menuturkan kegemarannya menulis puisi sejak masih di bangku kelas 3 SD dan sudah ratusan judul yang ditulis, namun tak hanya sampai disitu, ia terus belajar dan bercita – cita kelak menjadi guru agar bisa melahirkan generasi baru di bidang satra.

” Saya bercita – cita menjadi guru Matematika dan Bahasa agar bisa mendidik anak – anak menjadi penulis buku seperti saya. Saya berharap Pemerintah NTT tidak tinggal diam tapi terus mendorong anak – anak agar bisa mengembangkan diri demi terwujudnya NTT yang hebat,” kata calon siswi SMP ini.(mas)

Berikan Komentar Anda.