Home Olahraga “Janji Politik” Jaman Now, Masihkah Jadi Senjata Ampuh?

“Janji Politik” Jaman Now, Masihkah Jadi Senjata Ampuh?

383
0
SHARE

Oleh : S. Y. Sanu,SH

Soe, Terasntt.com – Janji dan politik tidak bisa selalu bersama, ibarat sepasang suami istri yang sulit dipisahkan sehingga bisa dikatakan tak ada politik tanpa janji.

Pemilu dari masa ke masa baik itu pemilukada, pileg, pilpres selalu dihiasi dengan berjuta janji meski setelah sang penebar janji itu terpilih dan tidak melakukan janjinya namun tetap para aktor politik tidak berhenti untuk terus mengumbar janji. Tak heran masyarakat sering memberi sebutan “Sang Pendusta” karna penebar janji berkali kali ingkar.

Pemilihan langsung sudah berjalan dan perlahan masyarakat mulai menunjukan kecerdasan dari waktu ke waktu, sehingga tak heran akhir akhir ini masyarakat cenderung melihat sesuatu yang nyata untuk dijadikan rujukan memilih seseorang meski harus “menjual suara dengan sepeser duit”.

Jelang pileg 2019 janji janji manis meski sebenarnya itu asam, asin dan pahit karna terkadang itu sebenarnya janji yang tak mungkin mulai terdengar dimana mana dan pasti akan terus terdengar mengingat masa pemilihan baru akan dilakukan April 2019.

Timbul sebuah tanya, masihkah ampuh janji janji politik dijaman Now? Politik yang dihiasi dengan janji itu mengarah kepada kebohongan dan tentu bisa jadi blunder bagi para politisi jika berkaca pada pemilihan yang sudah berlalu dan tentu masyarakat sudah menulis rapi plus minus setiap calon dalam hatinya.

Janji politik tidak bisa dibawah ke ranah hukum namun tentu masyarakat bisa memberi semacam sanksi sosial bahkan mosi tidak percaya terhadap sang penebar janji sehingga jika terpilihpun bisa menjadi catatan refleksi saat pemilihan berikutnya.

Lalu apa yang harus masyarakat perbuat agar bisa menentukan pilihannya? ya harus cerdas dalam mencerna setiap tebaran janji, menilai apakah janji itu bisa dilaksanakan atau hanya permainan kata sang penebar janji itu.

Masyarakat semakin cerdas bahkan masyarakat di pelosok yang tidak paham tentang politik pun akhir akhir ini cenderung melihat hal yang nyata untuk bisa membuat keputusan, selanjutnya hanya hatiku, hatimu, hatinya, hati masyarakat yang mampu mengeksekusi pilihan bilik suara nantinya.

Berikan Komentar Anda.