Home Nasional Kasus e-KTP, Pengusaha Money Changer Tak Penuhi Panggilan KPK

Kasus e-KTP, Pengusaha Money Changer Tak Penuhi Panggilan KPK

142
0
SHARE
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah (Ari Saputra/detikcom)

Jakarta, Terasntt.com – Komisaris PT Berkah Langgeng Abadi, Juli Hira, dan salah satu pegawai perusahaan itu, Nunuy Kurniasih, tidak memenuhi panggilan penyidik KPK. Rencananya, keduanya menjadi saksi untuk tersangka eks Dirut PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo.

“Ada saksi yang tidak hadir, ada dua saksi untuk ASS (Anang Sugiana Sudihardjo) direncanakan diperiksa dalam kasus KTP elektronik, yaitu Juli Hira dan Nunuy Kurniasih,” ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Febri mengatakan saat ini KPK belum menerima alasan keduanya tak memenuhi panggilan KPK. Namun KPK akan menjadwalkan pemanggilan ulang keduanya. Saksi hari ini yang hadir adalah wiraswasta bernama Denni Wibowo.

“Jadi penyidik belum menerima konfirmasi alasan ketidakhadiran yang bersangkutan sampai tadi sore,” ujar Febri.

Juli Hira pernah hadir sebagai saksi dalam persidangan dengan terdakwa Setya Novanto pada 11 Januari 2018. Peran Juli berawal dari niat keponakan Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, yang ingin melakukan barter dolar melalui perusahaan money changer PT Inti Valuta.

Irvanto mengaku memiliki uang di Singapura, tetapi enggan membawanya ke Indonesia. Dia kemudian meminta Riswan alias Iwan (pegawai PT Inti Valuta) melakukan transfer dolar sebesar USD 2,6 juta di Singapura ke rekening perusahaan Iwan di Singapura, kemudian Irvanto mengambil jumlah uang yang sama dari stok milik PT Inti Valuta di Indonesia.

Namun Iwan mengaku tidak memiliki rekening di Singapura, sehingga meminta bantuan rekannya sesama pengusaha money changer, yaitu Juli Hira. Kemudian Juli menghubungi klien-kliennya yang ingin membeli dolar di Singapura. Juli pun mengumpulkan rekening para kliennya itu untuk kemudian diserahkan kepada Iwan dan diteruskan ke Irvanto.

Dari transaksi itu, Juli baru tahu uang yang ditransfer Irvanto berasal dari PT Biomorf Mauritius milik Johannes Marliem, salah satu vendor dalam proyek e-KTP.

Dalam surat dakwaan Novanto, pemberian fee kepadanya diambilkan dari bagian pembayaran PT Quadra Solution kepada Johannes Marliem melalui perusahaan Biomorf Mauritius dan PT Biomorf Lone Indonesia. Duit itu ditransfer ke rekening Made Oka Masagung di Singapura yang diteruskan ke Novanto.

“Untuk itu, Johannes Marliem akan mengirimkan beberapa invoice kepada Anang Sugiana Sudihardjo sebagai dasar untuk pengiriman uang, sehingga seolah-olah pengiriman uang tersebut merupakan pembayaran PT Quadra Solution kepada Biomorf Mauritius atau PT Biomorf Lone Indonesia,” sebut jaksa KPK dalam surat dakwaan. (detik.com/fai/elz)

Berikan Komentar Anda.