Home Politik Kaum Milenial, Senior dan Sesepuh di Golkar NTT

Kaum Milenial, Senior dan Sesepuh di Golkar NTT

312
0
SHARE

Oleh Frans Sarong
Wakil Ketua Golkar NTT,

Mira Natalia Pellu. Usianya masih 22 tahun ketika tulisan ini digarap medio November 2018. Dari sisi usia, gadis kelahiran Dili, 18 Maret 1996, jelas masuk kelompok generasi milenial. Gayanya pun khas milenial, centil menceriakan suanana.
Agar tiak berkisah dalam pemahaman samar, mungkin baik didahului gambaran singkat tentang makhluk milenial itu, sebelum melanjutkan jejak kisah Mira. Memang tidak terbantahkan kalau kata milenial sudah viral. Namun sejujurnya tidak sedikit pengucapnya belum memiliki pemahaman secara benar makna milenial. Kondisi itu bisa dimaklumi karena milenial adalah kata baru. Buktinya, kata milenial belum ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI. Gambaran maknanya bisa ditemukan melalui Wikipedia atau ensiklopedia multibahasa (termasuk Bahasa Indonesia) dalam jaringan bebas dan terbuka. Di sana antara lain menjelaskan, generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-an – 2000-an. Salah satu kekhasannya ditandai peningkatan penggunaan dan keakraban mereka dengan komunikasi melalui media sosial dan teknologi digital.
Kembali ke jejak kisah Mira. Kuliahnya pada Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisipol Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, hingga pekan kedua November 2018, sudah akan rampung, tinggal menunggu ujian skripsi. Namun sejak setahun sebelumnya atau ketika usianya masih 21 tahun, Mira sudah bergabung dan aktif di DPD Golkar NTT. Sulung dari empat bersaudara pasangan Joni EO Pellu dan Regina Ertiantji Koanak, itu juga menyandang sejumlah jabatan penting seperti Sekretaris AMPI NTT dan Wakil Sekretaris DPD Golkar NTT. Mira bahkan tercatat sebagai caleg Golkar nomor urut 7 dari daerah pemilihan Kecamatan Oebobo untuk DPRD Kota Kupang.
Ia mengakui dirinya termasuk kelompok milenial yang awalnya sangat tidak menyukai dunia politik apalagi bergabung dengan parpol. Alasannya karena di mata dia dan rekan rekan sebayanya, politik adalah kepalsuan. Namun anggapan itu berubah setidaknya sejak September atau Oktober 2017. Persisnya, sesaat setelah ia jumpa salah satu tokoh idolanya, Melki Laka Lena, yang adalah Ketua DPD Golkar NTT. Sang idola itulah yang mengubah anggapan Mira tentang politik dari rasa benci menjadi medan menantang namun dicintai.
Mira mulai tertarik pada politik dan akhirnya berbagung dengan Golkar karena ajakan Melki Laka Lena yang ia lukiskan bergaya khas bergaya milenial. Pada awalnya semacam pejajakan. Ternyata tidak membutuhkan waktu lama. Rasa tertarik langsung tumbuh hingga akhirnya serius bergabung. Kata Mira, politik itu ternyata menantang kemampuan seni berinteraksi termasuk mengolah isu hingga terasa seksi dan menarik untuk ditekuni.
Selain Mira, masih ada sejumlah contoh lain. Sebut misalnya Saturminus Jawa yang berusia 30 tahun. Seperti Mira, pria bujang kelahiran Nagekeo, Flores, 21 September 1988, juga sudah terdaftar sebagai caleg Golkar nomor urut 5 daerah pemilihan Kecamatan Oebobo untuk DPRD Kota Kupang.
Ada lagi kader Golkar kelompok milenial berusia 32 tahun dan sudah bergelar S2 Bahasa Inggris dari Undana Kupang. Ia adalah Aprilia Johana Manukoa. Gadis kelahiran Kota Kupang, 7 April 1986,
itu bahkan tercatat sebagai caleg DPR RI nomor urut 7 daerah pemilihan NTT 2, yang meliputi 12 kabuoaten di Timor, Sumba, Rote dan Sabu. Di Golkar NTT ia pun menyandang sejumlah jabatan. Di antaranya Sekretaris MKGR NTT bersama Hugo Rehi Kalembu sebagai ketuanya, yang adalah Ketua Fraksi Golkar DPRD NTT.
Mira, Saturminus dan Aprilia hanya contoh terbatas bergabungnya sejumlah generasi milenial di Golkar NTT. Di sana mereka belajar berpolitik praktis bahkan beradu argumen dengan para seniornya seperti Melki Laka Lena, Inche Sayuna (Sekretaris Golkar NTT), Hugo Rehi Kalembu, Anwar Pua Geno (Ketua DPRD NTT), Ans Takalapeta, Gabriel Manek, SV Nitti, Mohammad Ansor, Thomas Tiba, Eldat Nenabu, Adriana Kosi, Maksi Adipati Pari dan banyak lagi.
Generasi milenial juga tidak jarang berinteraksi akrab dan cair dengan para sesepuh Golkar NTT yang tetap “kuning”. Selama kepemimpinan Melki Laka Lena dan Inche Sayuna, tercatat sejumlah sesepuh yang masih sempat meluangkan waktu menghadiri rangkaian acara penting di Golkar NTT. Mereka di antaranya JN Manafe, Frans Skera, Felix Pullu, Acry Deo Datus, Daniel Adoe, Umbu Saga Anakaka, Daniel Banunaek, dan banyak lagi. Bahkan Felix Pullu masih dipercayakan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Golkar NTT era kepemimpinan IA Medah dan penggantinya, Melki Laka Lena.
Selain itu masih tercatat sejumlah sesepuh Golkar yang dipastikan tetap “kuning” namun menyebar di berbagai kota kabupaten bahkan kampung di NTT. Mereka itu di antaranya, Daniel Woda Palle (Maumere), J Tapatab, Joseph Christian dan Daniel Taneo (Soe), Martinus Adur dan Herman Djegaut (Ruteng), David Ngge (Kampung Mukun, Manggarai Timur).
Juga masih memiliki sejumlah tokoh lain yang bersama Golkar sejak partai itu berstatus Sekretariat Bersama atau Sekber Golkar. Satu di antaranya adalah Matheus Pu’ung. Usianya sudah 86 tahun (2018), ia adalah salah satu tokoh pertama yang mengenalkan Sekber Golkar di Manggarai Raya bersama Paulus Wato Kleden (alm), tahun 1970-an. Hingga usia senjanya itu, Matheus Pu’ung memilih menetap di kampung kelahirannya, Cibal, Kabupaten Manggarai. “Ingatannya masih segar dan sehat. Semangatnya pun bangkit kalau diminta kesediannya bercerita tentang Golkar,” tutur Dr Frans Salesman, di Kupang, medio November 2018. Frans Salesman adalah salah seorang menantu Matheus Pu’ung.

Berkekuatan dahsyat

Dalam pemahaman umum, milenial itu alias kaum muda. Menurut catatan Kompas, Senin, 29 Oktober 2018, di negeri ini, kaum muda atau milenial adalah mereka yang kini berusia 15 – 40 tahun. Jumlahnya tidak kecil, sekitar 103 juta jiwa, hampir separuh dari penduduk Indonesia yang kini sekitar 253 juta jiwa. Mereka adalah sumber daya berkekuatan dahsyat menggerakkan kemajuan bangsa melalui kreativitasnya.
Ciri khas lainnya – mengutip Achmad Zaky – generasi milenial adalah mereka yang selalu gerah dan terus berjuang memerangi tindakan koruptif. Alasannya karena korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara. Tindakan rasuah itu berpotensi mematikan kreativitas generasi muda sebuah bangsa. Pemicunya, korupsi menciptakan iklim jalan pintas, yang efeknya mengerdilkan daya saing bangsa. “Orang baik, pintar, cerdas dan kreatif (dalam generasi milenial) akan malas bekerja dalam iklim koruptif. Ini amat berbahaya karena sebenarnya merekalah yang memproduksi karya karya yang memberikan nilai tambah bagi bangsa dan negaranya,” kata Zaky (Kompas, Sabtu, 27/10/2018).
Achmad Zaky bukan sembarang orang. Ia generasi milenial yang adalah pediri sekaligus CEO Situs E-Commers Bukalapak.com, perusahaan e-commers terkemuka di Indonesia. Di usianya masih 32 tahun, Achmad Zaky sudah termasuk dalam kelompok 150 oran terkaya di Indonesia. Menurut catatan majalah Globe Asia, harta kekayaan Achmad Zaky sekitar 100 juta dollar AS atau setara kurang lebih Rp 1,5 triliun!
Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum, kini dengan komitmen baru. Ia membuka gerbang Golkar selebar-lebarnya bagi generasi muda – dan juga kaum perempuan- berkarier politik di partai berlambang beringin itu. Komitmen itu sebenarnya sudah kelihatan wujudnya. Airlangga Hartarto sendiri ketika secara aklamasi terpilih menjadi Ketua Umum Golkar melalui Munaslub di Jakarta, Desember 2017, usianya masih relatif muda, 55 tahun. Contoh lainnya, Emanuel Melkiades atau Melki Laka Lena, usianya masih 40 tahun ketika terpilih menjadi Ketua DPD I Golkar NTT melalui musdalub di Kupang, Oktober 2017.
Terkait komitmen baru tersebut, Melki Laka Lena, pada banyak kesempatan mengatakan, kekokohan bahkan keabadian napas perjuangan Golkar ke depannya sangat ditentukan oleh keterlibatan , generasi muda dan juga kaum perempuan. “Sebuah upaya serius harus didorong guna melepaskan image atas Golkar sebagai partai orang tua yang hanya didominasi kaum lelaki. Golkar ke depan harus lebih dominan sebagai partai anak muda, generasi milenial, namun tetap rapat dan akrab dengan para senior dan juga sesepuhnya,” kata Melki Laka Lena (Pos Kupang, 20 Oktober 2018).
Keterlibatan generasi milenial di Golkar NTT bersama Melki Laka Lena dan Inche Sayuna, tidak sekadar wacana atau komitmen. Sebagai contoh perekrutan para calegnya. Setidaknya 47 persen di antaranya adalah kaum muda atau generasi milenial berusia paling tua 40 tahun. Begitu juga keterlibatan kaum perempuan, jumlahnya sekitar 41 persen, jauh di atas tuntutan UU dengan kuota minimal 30 persen.
Golkar memberikan kesempatan luas bagi generasi muda atau milenial melalui perekrutan calegnya, tentu saja bukan tanpa alasan. Jejak sejarah Indonesia membuktikan, diskursus perubahan sosial politik di negeri ini selalu menempatkan kamum muda sebagai penentunya. Kaum muda juga didorong keterlibatannya di legislatif. Peran yang diharapkan dari mereka adalah lahirnya berbagai kebijakan yang sungguh pro rakyat. Alasannya karena kaum muda legislator belum terkontaminasi oleh distorsi nilai dalam kompetisi politik (Melki Laka Lena, dalam buku karyanya, Kaum Muda Mengawal Perubahan, 2004)
Di Golkar NTT, sudah tampak keserasian dan juga keharmonisan interaksi lintas generasi, antara kaum milenial, senior dan sesepuh. Seturut usia para calegnya, porsi kamu milenial memang mendominasi. Kondisi itu adalah mimpi Golkar kedepan yang sudah mulai terwujud. Namun catatan penting yang perlu mendapat perhatian serius adalah
agar Golkar tidak hanya menjadi partai bersih dari korupsi. Lebih dari itu – sesuai tuntutan generasi milenial – Golkar diharapkan selalu tampil di garda depan memerangi korupsi. Sebagamana diungkapkan
Achmad Zaky, generasi milenial adalah mereka yang selalu gerah dan terus berjuang memerangi tindakan koruptif. Atau dengan kalimat lain, kaum milenial – sesuai karakter dominannya – akan pergi meninggalkan Golkar jika kader-kader partai masih terperangkap berbagai kasus korupsi. ***

Berikan Komentar Anda.