Ke NTT, Najwa Sebut Impiannya Terwujud

Ke NTT, Najwa Sebut Impiannya Terwujud

1820
0
SHARE
Foto : Rafael L. Pura

KUPANG, Terasntt.com — Duta Baca Indonesia Najwa Sihab mengungkapkan kehadirannya di NTT mewujudkan impiannya. Beta (saya-red) Orang Kupang.

” Sudah sekian tahun berencana ke NTT, namun baru terlaksana kali ini,” ujarnya saat bincang-bincang pada acara “Literasi Untuk Kebhinnekaan” di Aula Eltari Kupang, Jumat (11/8/2017) malam.

Kegiatan tersebut menghadirkan Gubernur NTT Frans Lebu Raya sebagai bintang tamu ang dipandu oleh Bara Pattyraja.

Di NTT, Najwa mengaku ingin mendengar dan belajar tentang kebinekaan, sebab, kibinekaan tidak hanya sekedar diajarkan namun harus benar dialami dan dirasakan.

Najwa mengatakan NTT yang sudah terkenal dengan Nusa Terindah Toleransi ini seharusnya bisa diangkat agar dilihat dunia luar, di sinilah seharusnya Media memainkan perannnya.

” Seringkali kita hanya melihat yang jelek-jeleknya saja, tetapi praktek baik selama ini, harusnya menjadi contoh bagaimana keberagaman itu tidak pernah dipersoalkan, itulah yang harus sering-sering kita praktekan, dan NTT telah menunjukan ini,” ucap Najwa.

Najwa mengaku, kehidupan seperti inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi dirinya untuk datang dan merasakan keindahan kehidupan toleransi di Bumi Flobamora, sebagaimana yang pernah ia rasakan di di negeri Paman Sam.

Najwa bercerita, saat umur 16 tahun, dirinya sudah merasakan hidup di tengah kaum mayoritas, itu dialaminya saat mendapat kesempatan belajar di Amerika. Di sana, Najwa di tempatkan di salah satu Kota Kecil, di New York.

Di Kota Kecil itu, Najwa tinggal bersama Keluarga Katolik yang taat. Dari situlah, Najwa Kecil kecil sudah belajar tentang toleransi. Rupanya hidup ditengah Mayoritas membuatnya lebih peka terhdadap lingkungan di sekitarnya.

” Waktu umur enam belas tahun, saya sudah merasakan indahnya toleransi. Hidup ditengah Mayoritas, namun tak pernah merasa sendirian. Ibu angkat saya ketika bulan puasa, setiap malam Ia mengingatkan saya untuk sahur, dan mama adalah katolik yang sangat taat. Itu pun sampai sekarang saya ingat,” Kenang Najwa.

Sebagai bentuk kecintaan terhadap keberagaman, Najwa kemudian menggambarkan kehindahannya lewat lirik-lirik.

” Perbedaan kita sedang diuji, prasangka mendahului yang nyata, agar tak dikecam fitnah dan pemecah belah. Benarkah sedemikian kusut alasan untuk terus kita merayakan keberagaman. Kita pernah sama-sama melewati badai sejarah, sejak kapan agama menjadi alasan mengoyak persatuan dan kesatuan dari kemanusiaan? Jangan benci terhadap perbedaan, sebab perbedaan adalah kekayaan kita. Kenapa Chairil Anwar berkata, kami sudah berikan jiwa, tapi kerja belum usai. Tulang belulang pejuang berserahkan tak lagi berkata, kini kita yang berkata. Dengarkan Bung Hata berbicara, hanya ada satu negara yang menjadi negaraku, negara itu tumbuh karena satu perjuangan, dan itu perbuatanku,” Najwa membacanya dalam Khusuk. (rafael l pura)

Berikan Komentar Anda.