Home Politik Kekuatan Aliran Politik Santri ke Prabowo Pupus

Kekuatan Aliran Politik Santri ke Prabowo Pupus

865
0
SHARE

Laporan : Rafael L Pura

Kupang, Terasntt.com – Pengamat Politik dari Univesitas Muahammadiyah Kupang Ahmad Atang menilai kekuatan aliran politik Santri ke Pasangan Capres Prabowo – Sandiaga Uno kian pupus.

“Ini soal visi Keumatan. Visi keumatan itu, karena selama ini mereka bersandar ke Prabowo. Tapi dengan pilihan politik yang dilakukan Prabowo ke Sandiaga itu kemudian membuat harapan Kekuatan politik santri kian pupus,” ujar Ahmad Atang di Kupang, Senin, (28/8/2018).

“Jadi ini bukan soal Prabowo atau Jokowi, tapi soal simbol politik umat. Itu tidak terakomodir di Sandiaga,” Katanya.

Sehingga, Kata Ahmad Atang, ruang negosiasi yang tengah dibangun PDIP dengan ulama ataupun Habib Rizieq Shihab, itu kemudian melihat Jokowi yang menyelamatkan visi keumatan yang selama ini didengungkan Islam garis Keras.

“Jika itu bisa terakomodir, maka bisa saja kemungkinan kekuatan gerakan 212 itu bisa mendukung Jokowi. Karena di situ ada ulama yang selama ini mereka dengungkan” ujarnya.

Indikasi ini, Kata Ahamad Atang, bisa terlihat pada pernyataan Yusril Ihza Mahendra, sebagai Ketua PBB, Ia mengindikasikan 80 persen PBB akan mendukung Jokowi – Ma’aruf. “Pernyataan Yusril, hanya karena argumen itu,” sebutnya.

Karena itu, Kata Ahmad Atang, bisa saja tampilnya PBB dibawah komando Yusril ke kekuatan Jokowi – Ma’ruf bisa memecah konsentrasi paling tidak kepada orang-orang (politik aliran) yang berharap banyak ke Prabowo itu bisa “lari”.

“Dan saya kira keputusan Jokowi mengambil Ma’ruf Amin itu kemudian mematahkan kekutan politik Aliran. Sehingga, kita tidak lagi melihat ada stigmen -stigmen oposan yang kemudian membawa politik ini ke simbol-simbol agama mulai redup,” jelas Atang.

Hadirnya Ma’ruf Amin Menguntungkan Partai Nasionalis

Upaya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berusaha merangkul pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab agar mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019, dikuatirkan bisa memunculkan risiko tergerusnya suara partai dari para pemilih nasionalis.

Sebab, selama ini, ada perbedaan pandangan yang prinsipil antara simpatisan PDIP dengan kelompok Rizieq.

Konsekuensi dari upaya itu bisa saja membuat PDIP ditinggal simpatisannnya di level bawah, termasuk kalangan minoritas yang selama ini cenderung memilih PDIP lantaran mewadahi segala jenis kelompok.

Ahmad Atang menilai sebaliknya, hadirnya Ma’ruf Amin justru menguntungkan partai Nasionalis (PDIP) yang selama ini diklaim sebagai partai yang tidak pro Islam apalagi umat.

“Justru disini, dia mengambil keuntungan secara politik dengan merangkul Ma’ruf Amin, yang notabene ketua MUI dan NU,” ujarnya.

“Itu kan sebuah pilihan politik yang berani, dampaknya secara faktual itu menguntungkan partai-partai Nasionalis, sehingga selama ini, dikotomi antara partai Tuhan dan Setan itu kemudian tidak terbukti,” demikian Atang. (*)

Berikan Komentar Anda.