Kesetiaan di Balik Jeruji Besi

Kesetiaan di Balik Jeruji Besi

250
0
SHARE
Foto : Rafael L. Pura

KUPANG, Terasntt.com — Siang yang sibuk di pengadilan Negeri Kelas satu Kupang. Semua orang berlalu lalang, para Algojo (Pengadil) terus mondar-mandir, begitupun pengunjung lainnnya, dengan wajah tegang di ruangan itu.

Pandangan siang ini begitu kontras, melihat banyak jiwa yang sedang menunggu takdirnya. Menunggu keputusan yang akan mengantar mereka menuju jeruji besi. Sebuah persolan yang rumit sebenarnya. Badan dikekang, begitupun kebebasan.

Pandanganku yang tadi berputar -putar, akhirnya terhenti di depan ruang tahanan, seperti namanya, ruangan itu dimanfaatkan untuk mengurung mereka yang dinyatakan bersalah. Di situ duduk bersilah seorang Ibu (yang kemudian kutahu bernama Yulkan) bersama anaknya pada lantai kantor, Pandangan matanya kosong, putranya yang berumur sekitar dua tahun, bersandar di pundaknya. Tangannnya yang kasar terus mempebelai rambut putranya itu. Sementara, di dalam ruang tahanan itu, seorang lelaki menjulurkan tangannnya pada sela-sela jeruji besi, berusaha meraih tangan Yulkan, istrinya.

Sesekali anaknya menoleh ke dalam ruang tahanan, menatap wajah Ayahnya yang sendu di balik jeruji besi. Terkadang, Ia melambaikan tangannnya, saat itu, wajah ayahnya semula sedih, berganti senyum tipis.

Dari matanya, Tatapan Ayah ke putranya itu, memancarkan rasa penyesalan yang begitu mendalam. Sedangkan Istrinya Yulkan, menunduk meratapi kenyataan pahit ini.

Melihat dua sejoli ini, aku membayangkan betapa sulitnya hari-hari yang akan dilalui Yulkan tanpa suminya. Bagaimana ia bisa membiayai hidup ke dua putranya, Belum lagi uang pendidikan, seragam sekolah dan tuntuntan ekonomi serta tetek bengek lainnnya.

Ibu,Yulkan, mempunyai dua orang putra. Putra pertamaya kini duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar, sedangkan yang lebih kecil, belum mengenyam pendidikan.

Aku lantas menemaninya bersilah di lantai. Yulkan bercerita, suaminya bekerja di sebuah bengkel di Pohon Duri dengan gaji yang tidak seberapa. Pagi-pagi sekali ia sudah pergi bekerja, dan pulangnya terkadang sampai larut malam.

“Aku mencintai suamiku dengan seluruh, jiwa dan ragaku. Kepadanya, semua beban ekonomi diletakan, suamiku adalah pekerja keras,”ujarnya.

Yulkan menuturkan, sudah delapan hari suaminya mendekam di penjara, dalam rentang waktu itu pula dirinya selalu datang menemani suaminya, kendati hanya duduk bersilah di lantai depan penjara.

Ia bercerita, suaminya telah dituntut delapan tahun penjara, selanjutnya, ia hanya pasrah menunggu Vonis dari pengadilan atas suaminya yang tercinta.

“Saya hanya pasrah, menunggu keputusan ini, kemana nasib akan membawa saya dan kedua anakku kelak,” ujarnya sedih.

Kata-kata yang diucapkan ini, keluar bersama air matanya. Ia menyekahnya dengan sebuah kain putih yang diambilnya dari dalam tas.

Saat kutanya lebih lanjut, tidak ada kata-kata harapan yang terdengar, selain kepasrahan. Dan itu jelas terlihat dari raut wajahnya. Suaranya makin terbata, ketika kutanya perihal pengacaranya.

“Adik, untuk mencari sesuap nasi saja kami masih setengah mati, bagaimana mungkin kami bisa membayar pengacara ?,” Jawabnya membuatku tak bisa bertanya lebih jauh lagi.

Keheningan meyusul. Keheningan yang kuraskan kali ini begitu mengusik, bukan ragaku, tapi jiwaku. Jiwa seorang laki-laki, yang juga suami yang memikul tanggung jawab yang sama.

Sayang, Perbincangan ini terpaksa tak kami lanjutkan, ketika kami dengan sadar diminta begeser. Saat itulah, ia tidak bisa menjelaskan lebih detail kasus suaminya. Ia hanya berkata cepat, bahwa suaminya dipenjara karena terlibat perkelahian.

Pada titik ini, aku melihat dunia dengan mata telanjang. Bahwa dunia megajarkan kita banyak hal, ada baik, ada buruk, ada kaya, ada miskin , kaya dalam memberi, miskin dalam memberi. Betapa aku bangga pada Ibu Yulkan, yang dengan segenap tenaganya, memberi cinta tak berbatas kepada suaminya. Sebuah hal kecil, yang kadang diabaikan dunia. (rafael l. pura)

Berikan Komentar Anda.