Home Humaniora Kisah “Ika (‘n) Gera, Wara Horik”

Kisah “Ika (‘n) Gera, Wara Horik”

482
0
SHARE

Adonara,  Terasntt.com — Umumnya masyarakat adat suku Lamaholot di Flores Timur memiliki banyak  keunikan, kekhasan tradisi budaya yang diwariskan secara turun temurun.

Hal ini menarik perhatian semua pihak  dan mencoba lebih dekat mengenal dan memahami tentang pentingnya kekhasan tradisi ini.

Pulau Adonara  menjadi salah satu penyebaran etnik suku Lamaholot. Dengan beragam budaya, cerita, obyek wisata, ritus peninggalan budaya dan warisan tradisi leluhur lainnya, yang berdampak pada pola hidup, struktur sosial pada kelompok atau masyarakat adat tertentu. Ragamnya kekhasan ini turut memperkaya kebudayaan daerah yang menjadi kebanggaan dan  diharapkan terus dipertahankan karena  menjadi salah satu potensi atau icon destinasi wisata populer.

Masyarakat Adat Lewohele, Watobaya Adonara Barat memiliki keunikan tersendiri dalam tradisi turunan leluhur. Memiliki wilayah hak ulayat begitu luas membentang sampai di pesisir Ai Watan (Waitenepang) yang berbatasan dengan wilayah Waiburak dan Pantai Waibao Desa Duwanur. Ketika berada di bukit kecil tepatnya bagian atas kampung adat lewohele ini kita begitu terpesona memandang hamparan pohon kelapa dan pisang menuju ke sebuah kampung pesisir pantai yang kononya merupakan daerah persebaran dari kampung adat Lewohele karena para nenek moyang membuka kebun dan jadilah sebuah kampung yang bernama Waitenepang atau ”Muko Pukeng Ai Watan” yang dalam struktur pemerintahannya masuk dalam wilayah Desa Waitukan. Kata Ai yang artinya Kampung (tempat/ daerah) dan  Watan artinya Pantai.      Ai Watan adalah Sebuah kampung  di pinggiran pantai, yang sejak nenek moyang memiliki keunikan tersendiri karena sejarah dan warisannya yang begitu menakjubkan .

Hal ini menjadi warisan kekal karena leluhur kampung halaman  sampai di laut sekalipun  yang disebut  penghuni laut (Ongo NeneHar’ing ) sangat dekat dengan anak cucu serta alam di kampung adat lewohele dan Ai Watan Waitenepang. Mereka selalu memperhatikan anak cucunya sampai pada kekentalan tradisi leluhur yang satu ini yang disebut “ IKA(‘N) GERA WARA HORIK” yang begitu terpanggil karena bersarat makna karena perwujudan nilai dan efek  magisnya yang mengental.

Arti Nama dan Sejarah                            Tradisi Ika (‘n) Gera Wara Horik, yang lazim dikenal dekat dengan Ika (‘n) Gerakarena dua frasa yang maknanya sama yakni  ika(‘n) gera dan wara horik yang hanya memperhalus pengucapan dan lebih memperjelas makna seturut sastra lisan lamaholot.

Ika (‘n) berarti Ikan yang menurut pandangan nenek moyang setempat adalah sejenis ikan apa saja yang besar. Wujud nenek moyang atau leluhur menyerupai ika ‘nyang disebut Har’ing (leluhur yang  bermukim di laut). Sedangkan gera berarti  terdampar di pinggir pantai. Jadi Ika (‘n) Gera dapat diartikan dengan seekor ikan yang terdampar di pinggir pantai yang tepatnya di lokasi ulayat kampung  adat Lewohele.

Menurut sejarah pada awalnya kejadian nyata dan benar-benar terjadi ini sudah  (6) kali ikan besar terdampar di pinggir pantai Ai Watan, dengan berbagai jenis ikan besar yang berbeda. Pada mulanya kisah ini memiliki makna kehadiranya yang begitu banyak diantaranya sebagai perjanjian antara leluhur didarat dan leluhur penghuni laut atau Har’ing. Bahwa pada masa tertentu yang berkisar antara 20- 25 tahun penghuni laut mengutus seseorang untuk mencari tahu jumlah jiwa anak cucunya yang bermukim di kampung adat lewohele dan ai watan waitenepang. Sebelumnya penghuni laut berwujud ikan ini mengadakan pesta besar dan mengutus salah seorang untuk bertemu anak cucunya sebagai penghuni kampung adat lewohele  dalam wujud ikan  di perairan dan sepanjang pantai hak ulayatnya.

Sejarah pun membuktikan.Tepatnya  pada kamis pagi 08 Maret 2018 seekor ikan besar jenis Ikan Layang pun terdampar. Sudah menjadi lazimnya keluarga  yang bermukim di daerah pesisir mengetahui bahwa ada ikan yang terdampar. Mereka pun langsung memberitahunya ke pihak yang berwewenang dalam urusan ini yakni penjaga Ai Watan, Bapak Frans Masan dari suku Tomuwolo.Penjaga Ai Watan ini mengumpulkan Ribhu Rathunya (masyarakat penghuni Ai Watan), untuk segera menuju ke pantai dimana ikan ini terdampar dan membawanya menuju ke rumah adat Ai Watan.

Setelah ikan sudah sampai di rumah adat maka ikan diletakan diatas bale bambu yang beratapkan daun kelapa. Melalui penjaga Ai Watan  ini ia mengutus seorang laki-laki untuk ke kampung Lewohele kepada  Ketad’ha (orang yang berwenang dalam  mengurus ikan gera).  Ketad’ha ini dari suku asli yang bernama suku Lewohele yang menjadi kepala sukunya.Dan ini menjadi turunan hak mereka yang mengaturnya.Setelah itu menyampaikan ke Tuan Tanah Lewohele.Setelah itu pihak Tuan Tanah dan Ketad’ha mengumpulkan Ribhu Rathu nya, melakukan pertemuan untuk persiapan segalanya menuju ke Ai Watan -Waitenepang, karena prosesi ritualnya terjadi di Ai Watan.

Tanda Kehadiran Penghuni Laut dan Persiapan Ritual Ika (‘n) Gera Wara Horik                Menurut sejarahnya bahwa kampung adat Lewohele telah mempercayai bahwa tradisi ini merupakan kenyataan yang harus di lewati secara turun temurun, melewati berbagai tahapan/ ritual serta prosesi ini ditangani langsung para Ketad’ha dari setiap suku. Kehadiranya penghuni laut menyerupai ikan ini biasanya terjadi antara 20-25 tahun ia sekali muncul/ terdampar. Terbukti sepanjang ini dari beberapa lapisan keturunan sudah 6 kali terjadi. Suatu keajaiban sepanjang Ribhu Rathu masih hidup di kampung Lewohele. Kehadiran ikan ini biasanya melalui tanda yaitu lewat mimpi oleh penjaga ai watan ataupun gejala alam seperti hujan besar dan tanda lainnya yang menjadi kerahasiaan penjaga ai watan.

Ribhu Rathu `dari kampung adat Lewohele baik tua, muda, laki-laki perempuan yang masih kuat dan bisa berjalan jauh, menuju waitenepang untuk mengikuti seremoni dan ritual.Seperti biasanya ikan ini dijaga satu malam.Setelah sampai maka dilakukan perundingan atau Tobo Gahingsebagai persiapan. Yang berhak duduk adalah tuan tanah, penjaga ai watan, para ketad’hadan para kepala suku dari tujuh (7) suku yang bermukim yakni mulai dari tingkat atas : Suku Lewohele, Suku Lewopuho, Suku Tomuwolo, Suku Ata Mukin, Suku Riang Petun, Suku AtaWadan, dan Suku Beletele. Dalam persiapan ini para ketadha sudah mengetahui tentang tugas dan tanggung jawabnya, seperti Suku Riang Petun sebagai pemegang senjata dan pemotong.Suku tomuwolo bertugas memegang binatang, suku ata mukin sebagai pelayan dan suku lainya sebagai pelancar prosesi.

Tahapan Ritus / Upacara Ika’n Gera Wara Horik                                                              Setelah melakukan persiapan yang didahului tobo gahing,makan bersama dan tarian adat berupa Sole Oha untuk menjaga ikan ini, maka keesokan paginya tepat jam 07.00 upacara pun dilaksanakan. Upacara ini melalui beberapa tahapan / ritus yang disaksikan oleh penjaga Ai Watan, Tuan Tanah dan Ribhu Rathu. Masyarakat adat Kampung Lewohele dan Ai Watan Waitenepang menyadari  bahwa urgensitas ritual Ika’n Gera Wara Horik ini sangat menuntut untuk dilalui secara baik dan benar sesuai urutan dan para Ketad’ha yang punya wewenang penuh untuk mengambil bagian pada setiap ritus. Tidak melihat ritus ini sebagai aksi dramatis melainkan sebagai suatu yang sakral dan  bersarat makna.

Tahapan Ritus antara lain :                                  1.  Pemotongan Hewan berupa 1 ekor Kambing.                                                      Tahapan ini dilakukan oleh para ketad’ha dari suku Riang Petun dan Suku Tomuwolo. Kambing ini sebagai perwujudan Huki Puhun(ucapan terima kasih), kepada para Har’ing melalui ritual Pao Boe (sesajian untuk memberi makan para Haring dan Leluhur). Sesuai  kepercayaan bahwa para ketadha yang dari suku ini yang harus menjalankannya. Dan ini sudah jadi tradisi turun temurun setiap suku

2.  Pemotongan Ikan                                          Pada tahap ini ikan yang sudah diambil dari tempat sebelumnya, di letakan di atas daun pisang di atas daun pisang yang sudah tersusun di atas tanah.Sebelum ikan di potong, darah dari kepala kambing digosok di bagian tertentu ikan sebagai simbol penyatuan sebelumnya antara leluhur dan anak cucunya.Pemotongan ini dilakukan dengan ukuran tertentu dan disesuaikan jumlah jiwa baik laki- laki maupun perempuan yang masih hidup terkecuali pihak perempuan yang sudah keluar untuk menikah.Bagi keluarga baru yang belum mendapatkan keturunan dan anaknya masih dalam kandungan juga dihitung jiwanya.Hal demikian sebagai wujud dari makna kehadiran ikan yakni pada masa tertentu ia hadir  untuk mencari tahu jumlah jiwa anak cucunya.

3. Tobo Lagang Adat (Pembagian Ikan). Pelaksanaan tahap ini dilakukan sesuai  urutan “Tobo Lagang Adat” dari suku pertama sampai terakhir. Sebelumnya kepala suku menghitung jumlah keseluruhan anggota sukunya.Mereka diperantauan, sekolah dan menetap di daerah lainya pun dihitung tanpa kecuali. Setiap Kepala Keluarga / atau anak laki- laki  duduk melingkar sesuai urutan rahang atau lapisan keturunan sukunya. Urutan suku ini dari atas : Suku Lewohele, Suku Lewopuho, Suku Tomuwolo, Ata Mukin, Suku Riang Petun, Suku Ata Wadan , Suku Beletele. Daging  ikan yang sudah dicincang  ini dibagi secara berurutan dari suku teratas. Di depan orang yang tobo lagang atau duduk adat sudah disiapkan Wao Lolon (Daun Waru) dan Kerageng (sejenis tali tradisional dari daun lontar/ pohon Koli), sesuai jumlah jiwa keluarganya, sambil duduk di atasMuko Lolon (daun pisang) secara teratur.” Wao Lolon”, “Kerageng”dan “Muko Lolon” dikenal masyarakat lamaholot sebagai symbol bahan alami yang di gunakan dalam bentuk seremoni adat apapun karena ia sudah menyatu dan menjadi bagian warisan tradisi leluhur.

4. Penyimpanan Bagian yakni potongan Ikan  Pada tahap ini  pihak tobo lagangmenyerahkan bagiannya kepada kaum ibu dari keluarganya untuk disimpan dan  dibawa pulang kerumah setelah bubar untuk dimasak dan di makan.

5. Masak Makanan  Adat                              Masak makanan adat ini dilakukan oleh kaum ibu perwakilan dari masing- masing suku.Makanan yang dimasak berupa ikan beberapa potong secukupnya, daging kambing serta beras biasa.

6. Makan secara Adat                                  Setelah makanan adat di hidangkan, sebelumnya perwakilan kepala suku terlebih dahulu makan, dan selanjutnya setiap suku duduk sesuai Lagang Adat untuk makan secara Adat.

7. Pamitan                                                        Acara pamitan pada tahap ini dilakukan untuk berpamitan dengan orang-orang dari kampung adat lewohele untuk pulang ke kampung. Pamitan di lakukan oleh penjaga ai watan dan tuan tanah. Setelah itu dilaksakan Sole Oha sebagai Pamitan akhir karena didalam syair  atau ”Kniring Sole Oha” memiliki daya magis serta efek kekuatan yang sedikit sarat menyatukan antara lelehur dan anak cucunya yang masih hidup.

8. Ritus Penutup

Tahapan ini dilakukan oleh penjaga Ai Watan dan Para utusan.Seremoni penutup ini dilaksanakan lewat Pao Boe (sesajian untuk memberi makan para Haring dan Leluhur, berupa daging kambing yang sudah dimasak dan nasi adat).Momen inilah sebagai penutup seluruh rangkaian kegiatan dalam upacara ritual “Ika’n Gera Wara Horik”, pada masyarakat Adat Lewohele dan Ai Watan Waitenepang.

Kesimpulan dan Makna                                 “Ika’n Gera Wara Horik”, pada masyarakat Adat Lewohele dan Ai Watan Waitenepang., menjadi suatu tradisi yang unik dan menakjubkan. Ia cukup kental dengan magis naturalnya. Penyatuan alam lingkungan kampung adat yang sudah dijaga tatanannya secara turun temurun,baik di darat dan di laut. Sepanjang hidupnya seseorang ada yang mengalami sudah 4 kali, namun ada yang baru mengalami 2 atau 3 kali.Kenapa demikian? Karena jarak kehadiran ikan yang terdampar memiliki waktu yang cukup lama, kisaran antara 20-25 tahun. Sampai tahun 2018 ini sudah 6 kali dari kelipatan waktu antaranya.

Kehadiran penghuni laut antara lain:                  1.  Ikan Temu                                                          2.  Ikan Belida                                                        3.  Penyu Besar (diperkirakan Tahun 1956)        4.  Ikan Kebeku (sesuai nama dalam bahasa daerah) (diperkirakan Tahun 1981)                    5.  Ikan Lumba-Lumba (Tahun 2007)                  6.  Ikan Layang. (Tahun 2018 )

Tradisi Ika(n) Gera menjadi sarat makna yang begitu penting dalam kultur kehidupan masyrakat adat. Manusia sejak dalam kandungan sampai dilahirkan begitu berarti karena untuk Peno Suku (memperbanyak jiwa/orang di  suku). Tradisi ini mempersatukan leluhur, jiwa yang hidup dan penghuni laut (Har’ing).Sehingga pada masa tertenturitual ini tetap berjalan.Penghuni laut (Har’ing) dapat mengetahui jumlah jiwa masyarakat adat lewohele dan ai watan waitenepang. Dalam suasana demikian melalui tradisi ini turut menghidupkan kembali semangat persaudaraan, menjalin perdamaian antara setiap suku, dengan tidak membedakan suku,agama, ras. Semua terhimpun ini menunjukan kepada generasi muda bahwa begitu penting menjaga keaslian sebuah tradisi , sejarah disebuah kampung adat, serta sebagai suatu wujud pembelajaran praktis dari generasi ke generasi tentang betapa pentingnya TRADISI IKA(N) GERA WARA HORIK ini karena menyimpan sejuta makna yang harus dipertahankan.

Oleh : Thomas Ara Kian Boli                              (Guru SMAN 1 Adonara Tengah,. Pegiat Sastra  Pada Komunitas Sastra “ANA KODA”)

Berikan Komentar Anda.