Home Pariwisata KSDAE Gelar Festival Di Kawasan Penangkaran Rusa Timor

KSDAE Gelar Festival Di Kawasan Penangkaran Rusa Timor

160
0
SHARE

Gundukan Pulau Menipo yang merupakan Taman Wisata Alam di Desa Enoraen, Kabupaten Kupang, NTT/ foto Frans Sarong

Kupang, terasntt.com — Direktorat Jenderal (Ditjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar Festival Menipo di kawasan penangkaran rusa timor di Desa Enoraen Kabupaten Kupang. Festival ini bertujuan mengingatkan masyarakat Timor khususnya, bahwa melestarikan rusa timor itu merupakan simbol penghormatan bagi leluhur mereka,” jelas Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno melalui telepon selulernya, Senin (29/10/2019).

Pelestarian rusa timor mendapat perhatian khusus Direktorat Jenderal (Ditjen) KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Perhatian itu ditandai dengan digelarnya kegiatan khusus “Festival Menipo” di Kota Kupang, pekan kedua November mendatang.

Menipo adalah nama kawasan konservasi di Desa Enoraen, Kabupaten Kupang. Kawasannya berupa gundukan pulau kecil di pesisir selatan Timor, bagian NTT, berjarak sekitar 119 km sebelah timur Kota Kupang. Gundukan pulau mungil itu sejak turun temurun merupakan kawasan khusus “penangkaran” rusa timor.

Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno dijadwalkan secara resmi membuka festival tersebut. Kegiatan itu tujuan utamanya menggugah masyarakat setempat agar semakin memahami pentingnya pelestarian rusa timor beserta kawasan habitatnya.

“ Festval itu juga bertujuan mengingatkan masyarakat Timor khususnya, bahwa melestarikan rusa timor itu merupakan simbol penghormatan bagi leluhur mereka,” jelas Wiratno.

Mengutip kisah sejumlah warga Desa Enoraen, gundukan pulau mungil yang belakangan dikenal Menipo, adalah serapan dari aslinya bernama Menifon. Kata menifon itu adalah paduan nama pasangan leluhur Timor di Enoraen, yakni Meni dan Fon. Pasangan leluhur itu dikenal sebagai penyayang biatang terutama rusa. Ketika zamannya, hewan liar itu selalu jinak dan akrab dengan Menifon dan keluarganya. Rusa yang ditangkap dan dibunuh hanya sebatas untuk kebutuhan lauk di rumah atau keperluar terbatas lainnya.

Menurut kelanjutan kisahnya, seiring perjalanan waktu, perlilaku rusa belakangan menjauh dan liar. Menifon pun mulai kesulitan menangkapnya. Setelah dilakukan pengusutan, ternyata perubahan perilaku rusa yang menjauh dan liar itu akibat ulah menyimpang sekelompok warga. Tanpa sepengetahuan Menifon, mereka secara serakah menangkap dan membunuh hewan liar itu hanya sekadar bersenang senang.

Mengetahui ulah negatif sekelompok warganya itu, Meni dan Fon terpanggil untuk menyelamatkan kawanan rusa. Usaha yang dilakukannya adalah memindahkan beberapa pasang rusa ke kawasan gundukan pulau yang kemudian bernama Menifon lalu berubah menjadi Menipo itu.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, Timbul Batubara menjelaskan, Festival Menipo yang berlangsung selama tiga hari, pada intinya mengenang jasa luhur leluhur Menifon. Berbagai atraksi budaya khas Timor akan dipentaskan. Warga yang dilibatkan akan diggugah perannya guna menguatkan rasa memiliki mereka atas TWA (Taman Wisata Alam) Menipo.

“ Apalagi rusa timor yang sekarang ada termasuk di Menipo, terjaga keberadaannya berkat jasa leluhur mereka,” tambah Timbul di Kupang, Senin (29/10/2019) petang.(m45)

Berikan Komentar Anda.