Liis Mean Malaka, Perubahan Sosial dan Branding

Liis Mean Malaka, Perubahan Sosial dan Branding

267
0
SHARE
Bawang Merah di Desa Oanmane, Malaka Barat

Oleh: Dr. Bernard de Rosari

Lewat tengah malam tepatnya pukul 01.00 Wita sekelompok orang, laki dan perempuan masih menyelesaikan pekerjaan mereka mengikat bawang merah. Sekelompok yang lain sudah mulai mengakhiri pekerjaan itu dan beranjak tidur. Malam-malam penuh canda riuh ditiga desa bawang merah RPM menyemarakan suasana Desa Fafoe, Oanmane, dan Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka.

Pekerjaan mengikat bawang merah atau oleh masyarakat Malaka menyebutnya Liis Mean Malaka dilakukan oleh tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja dari luar keluarga yang diupah. Upah tenaga kerja perhari Rp 30.000/orang ditambah makan dan minum. Petani bawang merah rela merogoh kantongnya untuk membayar tenaga kerja dari luar yang selama ini tidak pernah mereka lakukan. Kalaupun membutuhkan tenaga kerja yang banyak dalam usahataninya misalnya pada saat tanam, menyiang gulma atau panen biasanya menggunakan tenaga kerja kelompok sistem arisan. Itulah situasi teranyar di Malaka khususnya ditiga desa bawang merah.

Perubahan sosial telah terjadi dan minimal dua fenomena sosial terbidik yakni, fenomena pertama, adanya jam kerja per hari setiap petani dan tenaga upahan yang relatif panjang. Jam kerja mulai dari pagi sampai malam bahkan lewat tengah malam.
Fenomena sosial kedua adalah adanya kemauan petani bawang merah mengupah tenaga kerja.

Kegembiraan petani bawang merah atas produksi yang berlimpah sekaligus menjadi tantangan, yaitu, pertama, perlu adanya kepastian pemasaran dan harga yang baik. Kedua, menumbuhkan penangkar bawang merah di Malaka sehingga tidak menjadi tergantung lagi dengan benih dari luar. Ketiga, Menyiapkan psikologi petani bahwa bawang merah adalah komoditas hortikultura yang memiliki variabilitas produksi yang tinggi baik pada fase on farm maupun off farm karena perubahan cuaca atau adanya serangan hama dan penyakit, serta guncangan harga dengan disparitas yang tinggi. Ketahanan terhadap variabilitas produksi dan harga akan membuat petani semakin tegar dan siap dengan tantangan tersebut dimasa-masa mendatang.

Eforia produksi liis mean Malaka perdana dari membudidayakan bawang merah varietas bima brebes yang adaptif dengan agroklimat Malaka, serta dalam suasana menggeliatnya perubahan sosial masyarakat Malaka, maka tidak salah kita memberikan branding baru dengan sebutan Bima Brebes Liis Mean Malaka. (BdR).

Berikan Komentar Anda.