Home Olahraga Mengenang Legenda: Ronaldo, Sang Fenomena Paling Ikonik di Dunia Sepakbola

Mengenang Legenda: Ronaldo, Sang Fenomena Paling Ikonik di Dunia Sepakbola

463
0
SHARE

Terasntt.com – Satu generasi sebelum Cristiano Ronaldo mendominasi sepakbola bersama Lionel Messi, seorang pemain yang bernama sama lebih dahulu menggenggam dunia lewat kecepatan, trik, dan rataan golnya yang luar biasa. Ia adalah pemain nomor 9 paling ikonik di dunia: Ronaldo!

Seperti Pele, mendiang ayah saya adalah peramal yang buruk. Ramalan-ramalannya menyoal sepakbola bahkan lebih buruk daripada ramalan zodiak di sebuah surat kabar yang miskin kualitas. Meski begitu, saat Ayah mengatakan, ”Ada satu, ada dua,” yang bagi saya terdengar menyebalkan itu, ramalannya jarang sekali meleset.

Pada malam pertandingan leg kedua babak perempat-final Liga Champions 2002/03 antara Manchester United melawan Real Madrid di Old Trafford, Ronaldo menerima umpan terobosan dari Guti Hernandez. Rio Ferdinand, yang saat itu mengawalnya, berlari setengah mati untuk menyaingi kecepatan Ronaldo. Segala upaya kemudian dilakukan Ferdinand untuk menghentikan Ronaldo, tetapi sebelum dia berhasil melakukannya, Ronaldo sudah melakukan tembakan ke arah tiang dekat yang tak mampu dijangkau oleh Fabien Barthez. Madrid sementara unggul 0-1 – unggul 1-4 secara agregat. Lalu datanglah ‘mantra’ menyebalkan dari ayah saya itu, ”Ada satu, ada dua.”

Saya tahu bahwa Ronaldo sering kali menyelamatkan ramalan-ramalan buruk ayah saya mengenai sepakbola. Setelah mencetak satu gol, Ronaldo memang tak selalu mencetak dua gol atau lebih dalam setiap pertandingan. Tetapi Ronaldo terlalu sering melakukannya, sesering John Wick dalam menghajar musuh-musuhnya. Dengan pendekatan seperti itu, saat itu saya langsung mengucap doa kepada Tuhan, ”Tuhan, semoga Rio Ferdinand menebas kaki Ronaldo hingga dia tak mampu bangkit lagi.”

Sayangnya, doa buruk tidak dapat dikatakan sebagai sebuah doa. Daripada mengabulkan doa saya itu, Tuhan pun kemudian berpihak kepada ayah saya. Ronaldo terus menari di tengah-tengah muka pucat pemain-pemain bertahan United dan gerutuan saya. Semua kelebihannya sebagai seorang penyerang diperlihatkannya dalam pertandingan itu, dari kecepatan, penempatan posisi, hingga penyelesaian kelas satu. Hebatnya, Ronaldo tidak hanya mencetak dua gol pada pertandingan tersebut. Dia berhasik membukukan Hattrick secara mengagumkan.

Melihat penampilannya malam itu, saat Ronaldo digantikan oleh Santiago Solari pada menit ke-67, publik Old Trafford berdiri untuk memberikan standing ovation. Para penggemar United bernyanyi dengan lantang “Fergie, Fergie sign him up!” Pemandangan tersebut tentu saja jarang sekali terjadi di Old Trafford. Sepanjang sejarah berdirinya Old Trafford hanya segelintir pemain lawan yang mendapatkan perlakuan seperti itu.

Meski pada akhirnya United menang 4-3, mereka tetap gagal lolos ke babak semifinal karena kalah agregat gol. Sementara raut muka saya merengut, ayah saya tersenyum bahagia di samping saya. Janjinya untuk membelikan CD Playsation keesokan harinya tak mampu menolong suasana hati saya. Ya, semuanya gara-gara Ronaldo yang fenomenal itu.

Penerus Pele dan Ayrton Senna

Segalanya berawal dari kematian Ayrton Senna di sirkuit Imola, Italia, pada tahun 1994 lalu. Pasca Pele, Senna adalah idola baru bagi jutaan masyarakat Brasil. Dia begitu dicintai dan dihormati karena prestasinya yang seperti tak kunjung habis. Saat Senna menggeber habis mobil formula satunya untuk meninggalkan para pesaingnya, saat itu pula orang-orang Brasil lupa bahwa kehidupan terus-terusan menghajar mereka.

Dengan pendekatan seperti itu, kematian Senna menyebabkan duka mendalam bagi masyarakat Brasil. Mereka khawatir tak akan mendapatkan pahlawan serupa setelah kepergian Senna. Bagi mereka, orang-orang seperti Pele dan Senna belum tentu dilahirkan sekali dalam seabad.

Namun tanpa disadari, hanya beberapa saat setelah kematian Senna, pahlawan baru masyarakat Brasil ternyata sudah tumbuh besar. Dia sudah berada di dalam skuat tim sepakbola Brasil peraih gelar juara dunia tahun 1994. Dia memang sama sekali tidak terlibat di dalam pertandingan timnas Brasil di Amerika Serikat itu, tetapi ketika seorang pemain berusia 17 tahun ikut ambil bagian di dalam sebuah turnamen besar tentu saja dia bukanlah seorang pemain biasa saja. Nama bocah itu adalah Ronaldo Luiz Nazario da lima.

Ronaldo mulai mencuri perhatian ketika dia berhasil mencetak 44 gol dalam 47 pertandingan selama dua musim berseragam Cruzeiro. Cafu, salah satu anggota skuat timnas Brasil di Piala Dunia 1994, sudah mencium masa depan cerah ketika pertama kali melihat aksi Ronaldo di klub profesional pertamanya itu.

“Saya pertama kali melihat Ronaldo bermain di Cruzeiro. Dia masih anak-anak. Namun, laga tersebut dia akhiri dengan mencetak lima gol,” begitu kenang Cafu. “Sejak saat itu, dia membuktikan bahwa dia adalah fenomena yang sesungguhnya.”

Menariknya, Cafu ternyata bukan orang pertama yang mengatakan jika Ronaldo akan menjadi fenomena baru di kancah sepakbola dunia. Adalah Roberto Gaglianone, pelatih pertama Ronaldo, yang pertama kali meramalkannya. “Pada Desember 1992 saya mengatakan, ‘Saya telah mengirim seorang bocah ke Cruzeiro yang akan menjadi penyerang Brasil berikutnya. Dia akan bermain di Piala Dunia 1998.’ Mereka menanyakan namanya dan saya jawab, ‘Ronaldo’.”

Beberapa saat setelah Piala Dunia 1994 berakhir, Ronaldo kemudian memulai peruntungannya di Eropa. Dia bergabung bersama PSV Eindhoven, salah satu klub raksasa di Liga Belanda. Dan di klub itulah ramalan Cafu maupun Gaglianone diberkati oleh takdir: Ronaldo benar-benar memulai langkahnya untuk menggenggam dunia.

Tidak hanya berhasil mencetak 54 gol dari 58 penampilannya bersama PSV selama dua musim, Ronaldo juga sering memperlihatkan kemampuan invidunya yang membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Kemampuannya dalam mengubah kecepatan sangat fantastis. Saat pemain-pemain belakang lawan mengira Ronaldo akan mengurangi kecepatan larinya, Ronaldo tiba-tiba bisa berlari dengan kecepatan penuh. Selain mendukung kemampuan dribelnya, kemampuannya dalam mengubah kecepatan itu juga sering membuat pemain-pemain belakang lawan lari pontang-panting untuk mengejarnya. Hebatnya, kelebihannya tersebut sering dia pergunakan untuk menerobos barikade di pusat pertahanan lawan, tak peduli daerah itu dipadati oleh pemain belakang lawan atau tidak, dengan probabilitas keberhasilan yang lebih besar daripada kegagalan.

Sementara Rudi Voller, salah satu penyerang terbaik Jerman, pernah mengatakan bahwa dia tak pernah melihat seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan kemampuan seperti itu, Jaap Stam, mantan rekan Ronaldo di PSV tak luput untuk memberikan pujian terhadap Ronaldo, “Saya bermain dengannya di PSV Eindhoven. Saat itu dia masih sangat muda, tetapi Anda segera dapat melihat bahwa dia akan menjadi pemain kelas dunia.”

Setelah berhasil memporak-porandakan sepakbola Belanda, Ronaldo kemudian berpetualang ke arena yang lebih besar. Tak main-main, tujuannya adalah Barcelona. Dia pindah dengan angka yang berhasil memecahkan rekor transfer termahal di dunia pada saat itu, 19,5 juta dollar AS. Sisanya adalah sejarah. Penampilannya di Barcelona benar-benar sefenomenal harga jualnya pada saat itu.

Penampilan Ronaldo di Barcelona waktu itu sebenarnya dapat diwakili oleh ucapan Jorge Valdano tentang dirinya. Legenda hidup sepakbola Argentina tersebut pernah mengatakan, ”Ronaldo bukan hanya seseorang, Ronaldo adalah sekelomook,”

Mendiang Bobby Robson tahu betul bahwa dia mendapatkan pekerjaan sulit saat menandatangani kontrak bersama Barcelona pada tahun 1996 lalu. Saat itu, Barcelona sedang mengalami penurunan. Selain itu, nama Johan Cruyff, pelatih Barcelona sebelumnya, akan terus berputar-putar di dalam kepalanya saat dia mendapati hasil-hasil buruk bersama tim barunya itu.

ahu bahwa timnya sedang berada dalam masa transisi dan dia tak mempunyai banyak waktu untuk menunjukkan kehebatannya, Robson kemudian mengambil solusi praktis. Dia mendatangkan Ronaldo dari PSV Eindhoven sebagai juru selamat. Rekam jejak Ronaldo di PSV diharapkan Robson terus berlanjut di Barcelona.

Keputusan Robson ternyata tepat. Meski Ronaldo tidak mampu menyelamatkan kariernya di Barcelona, Robson berhasil meraih dua gelar bersama Barcelona, Piala Winners dan Copa del Rey. Saat itu Ronaldo nyaris bekerja sendirian. Dia hampir selalu membuat bek-bek di La Liga susah tidur setelah menghadapinya, kiper-kiper di Eropa hanya bisa pasrah ketika harus berhadapan satu lawan satu dengannya, dan para penggemar sepakbola selalu menantikan gerakan ajaib setiap Ronaldo menguasai bola.

Dalam satu pertandingan menghadapi Compostela, Ronaldo berhasil mencetak gol terbaiknya di dalam sepanjang kariernya. Secara estestis, dia berhasil melewati sekitar lima pemain Compostela yang berusaha menghadangnya. Dia berhasil menerjang tarikan dan tekel yang membuat banyak orang tak percaya, bahkan Bobby Robson sampai memegangi kepalanya saat Ronaldo memamerkan kebolehannya itu.

“Ronaldo begitu ramping, dia juga secepat sprinter Olimpiade, dan dia mencetak beberapa gol dengan cara yang tak dapat saya percaya,” begitu kenang Robson. Ya, salah satunya adalah gol Ronaldo ke gawang Compostela itu.

Pemampilan Ronaldo bersama Barcelona pada waktu itu membuat kata fenomenal terlalu sering diucapkan ketika orang-orang membicarakannya. Namun, menghilangkan kata tersebut saat menyinggung Ronaldo memang sebuah kesalahan yang tak dapat ditolerir. Begini, dia berhasil mencetak 47 gol dalam 49 penampilannya bersama Barcelona. Gelar pemain terbaik dunia FIFA tahun 1997 juga berada di dalam genggamannya. Padahal, Ronaldo saat itu masih berada di usia awal 20-an. Apalagi yang lebih pantas mewakilinya selain kata fenomenal?

Meski begitu, penampilan hebat Ronaldo bersama Barcelona bukanlah sesuatu yang ditunggu-tunggu banyak orang, terutama oleh masyarakat Brasil. Kiprahnya bersama timnas di putaran Piala Dunia dianggap lebih penting. Keberhasilannya membawa Brasil menjadi juara dunia bisa membuatnya berdiri sejajar dengan Pele, olahragawan seprofesi dengannya, atau dengan Ayrthon Senna, pembalap Formula Satu pujaan rakyat Brasil. Ronaldo akhirnya memang berhasil mencapainya, tetapi dengan cara yang luar biasa sulit.

Pada musim awalnya tampil bersama Inter Milan, di Serie A musim 1997/98, Ronaldo masih semenomenal sebelumnya. Saat itu, selain berhasil membawa Inter Milan menjadi runner-up Serie A, Ronaldo juga berhasil mencetak 25 gol. Gelar pemain terbaik dunia FIFA pun berhasil dipertahankannya.

Dengan pendekatan tersebut, harapan besar masyarakat Brasil untuk meraih gelar juara dunia kelima berada di pundak Ronaldo ketika Brasil tampil di Piala Dunia 1998. “Jika dia benar-benar sejajar dengan Pele atau Ayrton Senna, dia seharusnya bisa meraih gelar Piala Dunia sendirian,” mungkin begitu pikir sebagian besar masyarakat Brasil pada waktu itu.

Sayangnya, harapan itu hanya sebatas harapan. Pada kenyataannya Ronaldo gagal membawa Brasil menjadi juara dunia. Meski berhasil mencetak empat gol selama turnamen, penampilan Ronaldo tak seperti biasanya. Sejumlah cedera mengganggu performanya di atas lapangan. Konon, dia memaksakan diri untuk tampil di partai final meski tidak dalam kondisi bugar. Dan saat Zinedine Zidane dielu-elukan masyarakat Perancis karena dua golnya, Ronaldo tak berkutik menghadapi bek-bek tangguh Perancis: Brasil kalah tiga gol tanpa balas.

Empat tahun setelah kegagalan Brasil di Piala Dunia 1998 tersebut, Ronaldo kembali mencoba peruntungannya untuk menjadi pahlawan baru masyarakat Brasil. Kali ini dia datang ke Piala Dunia 2002, di Korea Selatan dan Jepang, bukan lagi sebagai pemain terbaik dunia. Sebaliknya, dia datang sebagai seorang pesakitan. Dua musim terakhirnya bersama Inter sebelum Piala Dunia tersebut dihabiskan di ruang perawatan karena cedera parah di lututnya. Kata fenomenal untuk Ronaldo sudah jarang diucapkan oleh banyak orang.

Menariknya, beserta potongan rambutnya yang nyentrik, yang pernah membuat Neymar kecil menirukannya, Ronaldo mengubah cara mainnya di Piala Dunia 2002 tersebut. Sadar bahwa lututnya sewaktu-waktu bisa mengakhiri karier hebatnya, dia tidak banyak berlari untuk menerjang pemain-pemain belakang lawan seperti kebiasaannya sebelumnya. Meski begitu, dia tahu bahwa instingnya saat berada di depan gawang lawan tak pernah berubah. Catatan medisnya tak akan mampu merusak ketajamannya.

Benar saja, saat pemain-pemain belakang mulai mengurangi perhatian terhadap kehadirannya, Ronaldo mengamuk di Piala Dunia 2002. Dia berhasil mencetak 8 gol di sepanjang turnamen, menjadi top skorer. Dua gol terakhirnya bahkan terjadi di partai puncak. Brasil menang 2-0 atas Jerman. Penampilan menawan Oliver Khan, pemain terbaik Piala Dunia tersebut, di partai puncak tak cukup untuk membendung kedigdayaan Ronaldo. Karena Ronaldo, Brasil meraih gelar juara dunia kelimanya pada saat itu, terbaik di antara negara-negara mana pun di segenap penjuru dunia.

Gelar juara dunia yang dipersembahkan Ronaldo membuat masyarakat Brasil melupakan Pele dan (mungkin) Ayrton Senna. Pada saat itu, namanya tak hanya sejajar dengan mereka berdua, melainkan berdiri lebih tinggi. Dia kembali fenomenal. Untuk ketiga kalinya, Ronaldo dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia. Kehebatan Ronaldo saat itu bahkan berhasil menginspirasi Zlatan Ibrahimovic, Lionel Messi, hingga Neymar, penyerang-penyerang terbaik dunia dari generasi berbeda.

“Bagi saya, Ronaldo adalah yang terbesar. Dia sebaik Pele. Tidak ada seorang pun yang seperti dia. Tidak ada yang mempunyai pengaruh lebih besar, baik bagi sepakbola maupun bagi pemain, daripada Ronaldo,” begitu kata Ibrahimovic, yang masih terus rajin mencetak gol meski sudah berada senja, tentang penyerang idolanya.

Pasca Piala Dunia 2002, Ronaldo menlanjutkan kariernya di Real Madrid. Di sana dia berhasil memperoleh gelar liga pertamanya, La Liga, pada musim 2002/03. Meski dia terlihat lebih malas daripada sebelumnya, Ronaldo sepertinya tak pernah mau berhenti mencetak gol. Selama lima musim menjadi idola di Santiago Bernabeu, Ronaldo berhasil mencetak 83 gol dari 127 kali penampilannya.

Seiring perjalanan waktu, hingga dia pensiun di Corinthians, yang kebetulan merupakan klub pujaan Ayrton Senna, pada tahun 2011 lalu, Ronaldo memang mengalami banyak penurunan. Karena lingkar perutnya yang terus berkembang, dia mendapatkan julukan baru: Fat Ronaldo. Meski begitu, dia tetap lebih dikenal sebagai seorang pemain yang fenomenal. Ya, sefenomenal ayah saya ketika mengatakan, “Ada satu, ada dua.” (Renalto Setiawan/Fourtwofour Indonesia)

Berikan Komentar Anda.