Home Humaniora Perempuan Biasa dan AMA Kupang Gelar Seminar Internasional

Perempuan Biasa dan AMA Kupang Gelar Seminar Internasional

370
0
SHARE

Kupang, Terasntt.com – Komunitas Teater Perempuan Biasa bekerja sama dengan Angkatan Muda Adonara (AMA)-Kupang menggelar Seminar Internasional dengan tema “Peran Generasi Muda dalam Mempertahankan Budaya dan Peradaban di Era Milenial”.

Seminar yang digelar di Aula Komodo Ballroom DPD RI-NTT pada Kamis, (28/6/2018) ini mengundang seorang pemateri dari Malaysia, Prof. James T. Collins, dan dua orang pemateri dari Bali, Prof. Aron Meko Mbete dan Dr. Sri Jayantini, dengan moderator Dr. Lanny I. Koroh, M.Hum.

Ketua Panitia Pelaksana, Katarina Kewa Sabon Lamablawa, dalam sambutannya, mengatakan tujuan penyelenggaraan kegiatan seminar ini adalah mengembalikan identitas generasi muda NTT yang berlandaskan pada budaya luhur NTT.

Menurut mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana ini, generasi muda NTT cenderung mudah terpapar isu politik identitas, sehingga terkesan menciptakan permusuhan atas nama suku, etnis dan agama tertentu.

“Untuk itulah, kehadiran seminar ini hendak merekonstruksi pola pikir generasi muda tentang hakikat budaya NTT yang mestinya menjadi pijakan bersama untuk menjalin persatuan dan persaudaraan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum AMA Kupang, Hendrikus Jumat Boli, mengaku bangga dan merasa terhormat bisa bekerja sama dengan Komunitas Perempuan Biasa dalam menyelenggarakan kegiatan ini.

Heri, sapaan akrabnya, berharap agar seminar ini mampu memberikan dampak yang positif bagi seluruh peserta yang hadir, sehingga mampu ‘ditularkan’ kepada orang lain, demi menjaga eksistensi budaya dan peradaban NTT.

Sebanyak 132 peserta seminar dari kalangan mahasiswa lintas kampus dan umum menghadiri seminar ini.

Antusias peserta sangat terlihat, ketika pada sesi diskusi, puluhan partisipasan aktif berpartisipasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berbobot seputar revitalisasi bahasa dan budaya serta penulisan karya ilmiah sebagai salah satu upaya untuk menjaga eksistensi budaya dan peradaban, yang menjadi sub topik dari ketiga pemateri.

Seminar ini semakin menarik dengan dibagikannya sejumlah buku kepada para peserta diskusi yang aktif dalam memberikan pertanyaan dan kepada mereka yang mampu menulis serta membacakan puisi karangannya sendiri, menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian sertifikat. (*/raf)

Berikan Komentar Anda.