Home Daerah Pertemuan Wabup Flotim bersama Masyarakat Horowura Berakhir Ricuh

Pertemuan Wabup Flotim bersama Masyarakat Horowura Berakhir Ricuh

2581
0
SHARE

Adonara, terasntt.com — Pertemuan dan tatap muka Wakil Bupati Flores Timur, Agus Payong Boli bersama masyarakat Desa Horowura dan Hoko Horowura di balai desa setempat, Sabtu (16/3/2019) berakhir ricuh. Pertemuan terkait proyek Wai Kesi untuk masyarakat Kecamatan Ile Boleng ini bubar tanpa kesepakatan.

Kericuhan ini dipicuh oleh Sili salah seorang keluarga tuantanah yang tidak puas dengan sikap masyarakat yang kurang menghiraukan penjelasan tuantanah tersebut. Sili tampak begitu marah dan naik di atas meja persis di hadapan wakil bupati bersama kepala desa dan pihak – pihak terkait sambil membuka baju dan menujuk masyarakat, sontak warga yang tidak terima dengan sikap oknum tersebut, langsung berdiri dan menghampirinya hingga terjadi saling mendorong membuat suasana tegang dan hiruk pikuk.

Melihat situasi demikian beberapa anggota TNI dan Polisi yang hadir dalam pertemuan tersebut bangun mengamankan wakil bupati dan menenangkan masyarakat hingga akhirnya bubar.

Untuk diketahui, peristiwa yang sama juga pernah terjadi di Desa Lite terkait Wai Tahik dalam proyek yang sama, saat itu juga masyarakat menolak hingga mengusir pulang bupati dan wakil bupati di hadapan masyarakat Kecamatan Ile Boleng di balai desa setempat.

Sebelumnya pertemuan yang melibatkan masyarakat Horowura dengan Ile Boleng ini diawali dengan pembacaan pernyataan sikap tertulis masyarakat Lamalu,o. Ketika mendengar pernyataan itu, wakil bupati tampak kesal sambil mengomentari pernyataan tersebut dan meminta agar warga diam dan juga mendengar penjelasannya.

Payong Boli mengatakan, bahwa untuk proyek Wai Kesi itu pihak pemerintah sudah melakukan pendekatan selama 11  kali.

” Saya catat pendekatan yang dilakukan pemerintah sebanyak 11 kali dan saya sendiri empat kali. Sementara pendekatan yang dilakukan camat juga ada unsur pemerintah di dalam,” tegasnya.

Menurutnya semua tahapan sudah dilakukan pemerintah, bahkan surat menyurat juga dilakukan untuk kepentingan pembangunan sehingga ia meminta agar masyarakat mendengar pendapatnya selaku wakil bupati.

” Berikut pendapat saya dan tadi kita sudah mendengar pendapat masyarakat maka ini pendapat saya, sehingga berbeda sekalipun tidak masalah, sambil menyerahkan mic kepada Masang Boli selaku tuantanah untuk berpendapat.

Lalu sambil berdiri Masang menjelaskan, bahwa alasanya sebagai tuantanah bersama tujuh kepala suku menyetujui proyek Wai Kesi untuk Kecamatan Ile Boleng itu dengan beberapa sarat.

” Jika air itu diambil semua untuk masyarakat Ile Boleng kami tidak mau. Tapi harus dibangun kamar mandi, wc di sekitar sumber air untuk masyarakat setempat dan juga satu jaringan ke kebun dan satu lagi ke kampung Lamalu,o. Dan kami minta kontraktor memenuhi permintaan ini. Dan juga sebelum dinikmati masyarakat Ile Boleng, dusun Lamalu,o lebih dahulu menikmatinya. Ini pertimbangan kami dan mereka menyetujuinya. Namun dengan petimbang itupun Wai Kesi tidak diberikan, maka kami geser ke Wato Kduuk di lahan pribadi milik Pius Blido kepala dusun Lamalu,o,” kata Masang mengakhiri penjelasannya dan sontak suasana memanas hingga ricuh.

Pada tempat terpisah, sebagian masyarakat Niwak dan Hone Desa Hoko Horowura bersama masyarakat Lamalu,o menyatakan tetap menolak dan meminta agar pemerintah tidak membendung air mulai dari Wai Tahik hingga Wai Knawe.

” Setelah pertemuan tadi sekcam Adonara Tengah bersama Polisi menemui kami dan kami minta hentikan rencana pembendungan air yang ada karena kami sangat membutuhkannya. Tidak boleh ada pembendungan air mulai dari Wai Tahik hingga Wai Knawe” tegas Tinus Witak di amini Rofinus Wayong, Daton Witak, Masang Ola bersama masyarakat lain.(mas)

Berikan Komentar Anda.