Home Nasional Petumbuhan Ekonomi NTT 2018 Naik 5,13 Persen

Petumbuhan Ekonomi NTT 2018 Naik 5,13 Persen

71
0
SHARE

Kupang, terasntt.com —  Secara makro, pertumbuhan ekonomi NTT Tahun 2018 sebesar 5,13%, masih berada sedikit di bawah nasional sebesar 5,17%. Triwulan II 2019 pertumbuhan ekonomi NTT sebesar 6,36%, berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04%.

” Inflasi di Provinsi NTT pada tahun 2018 mencapai 3,07%, dan masih berada dalam rentang target inflasi nasional. Salah satu upaya menekan laju inflasi di NTT adalah dengan mewujudkan kemandirian ekonomi lokal, melalui peningkatan kualitas dan kuantitas serta optimalisasi pemanfaatan produk-produk lokal NTT yang telah digagas dalam wadah “Masyarakat Ekonomi NTT”, sebagaimana yang telah dideklarasikan pada bulan Juni 2019 lalu oleh Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pelaku Ekonomi se-NTT,” kata Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dalam pidato kenegaraan di aula Fernandes kantor gubernur setempat, Jumat (16/8/2019).

Melalui Masyarakat Ekonomi NTT ini lanjut VBL sapaan Viktor Bungtilu Laiskodat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota sementara menata pengelolaan potensi daerah, dengan melibatkan peran Koperasi, BUMDes, Bank NTT, serta Perusahaan Daerah seperti PT. Flobamor dan PT. Jamkrida NTT.

” Pemerintah, Pelaku Ekonomi dan Masyarakat NTT harus menjadi “tuannya perekonomian NTT” dengan menciptakan ketahanan ekonomi NTT melalui pemanfaatan produk lokal NTT dan proteksi terhadap produk lokal NTT. Setelah ketahanan lokal sudah tercapai, masyarakat Ekonomi NTT akan membidik pasar regional, nasional, bahkan internasional,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut VBL juga menyampaikan pencapaian pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur antara lain:
Bidang Pendidikan, bahwa
kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan di tiap jenjang pendidikan semakin baik yang tergambar dari besaran Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Pada tahun 2018, realisasi APK masing-masing untuk tingkat pendidikan SD sebesar 116,58%, SMP sebesar 88,51% dan SMA/SMK sebesar 77,81%. Sedangkan realisasi APM, untuk jenjang pendidikan SD sebesar 96,12%, SMP sebesar 68,14% dan SMA/SMK sebesar 53,67%.

” Kita harus bangga kepada 19 orang siswa-siswi NTT yang telah memperoleh nilai sempurna atau 100 pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang lalu. Ini pencapaian yang sangat baik dan harus bisa memotivasi siswa-siswi maupun tenaga pendidik lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, mulai tahun pelajaran 2018/2019 Pemerintah Provinsi NTT mencanangkan untuk seluruh SMA, SMK dan SLB di NTT sudah menerapkan Kurilkulum 2013 atau K13. Untuk melaksanakan K13 secara menyeluruh maka Pemerintah Provinsi telah melakukan program bimbingan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan sebanyak 470 orang dan kepala sekolah sebanyak 114 orang.

Dari waktu ke waktu Pemerintah terus mengupayakan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga pengajar beserta sarana/prasarana penunjang pendidikan lainnya, dan diprioritaskan pada sekolah-sekolah yang berada pada daerah-daerah terpencil dan terisolir.

Bidang Kesehatan

Pembangunan bidang kesehatan saat ini, lanjut vbl lebih menitikberatkan pada penekanan jumlah balita stunting atau balita yang mengalami tinggi badan kurang, penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Penanganan stunting ini merupakan titik awal pengembangan SDM NTT yang bermutu dan kompetitif.
Memang kita sadari bahwa prevalensi balita stunting di daerah ini masih cukup tinggi yaitu pada tahun 2018 sebesar 42,46%, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 30,8%. Kondisi ini menjadi prioritas utama dan sementara kita perangi bersama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota serta stake holder terkait lainnya.

Menurutnya, penanganan balita stunting selain melibatkan berbagai sektor seperti kesehatan, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sektor terkait lainnya, juga melalui intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskan pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu pada masa kehamilan sampai dengan anak berumur 2 tahun.

” Salah satu upaya yang saat ini gencar dilakukan Pemerintah dalam mengatasi kekurangan gizi dan stunting, yaitu melalui pemberian makanan tambahan yang tinggi nilai gizi dan nutrisi yang berbahan marungga kepada ibu hamil dan balita di fasilitas-fasilitas kesehatan masyarakat sampai dengan posyandu,” katanya.

Selain itu, lanjutnya parameter-parameter kesehatan lainnya, yaitu Angka Kematian Ibu dan Jumlah Kematian Bayi. Angka Kematian Ibu pada tahun 2018 sebesar 158 kasus, lebih rendah 5 kasus di bandingkan tahun 2017. Pada semester pertama tahun 2019 tercatat sebanyak 54 kasus. Sedangkan Kasus Kematian Bayi pada tahun 2018 sebesar 1.265 kasus dan pada semester pertama tahun 2019 tercatat sebanyak 450 kasus. Penyebab kasus kematian bayi didominasi oleh permasalahan infeksi dan perdarahan.

” Kita berharap di tahun ini dan di masa mendatang realita kehidupan Ibu dn anak semakin baik dan sejahtera melalui berbagai intervensi pemerintah, yaitu, Penguatan Strategi Revolusi KIA, Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), pemenuhan ketersediaan sarana/prasarana kesehatan serta paramedis dan tenaga kesehatan lainnya. Saya juga mengajak semua elemen masyarakat Nusa Tenggara Timur, termasuk kita yang hadir pada saat ini untuk mendukung Gerakan NTT Bersih, dengan menjaga kebersihan mulai dari diri kita sendiri dan tempat dimana kita tinggal dan beraktifitas untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan asri. Perlu kita sadari bahwa kepedulian dan aksi nyata kita semua untuk memerangi sampah, untuk mewujudkan lingkungan yang bersih menjadi salah satu faktor penting gerak langkah dan aksi kita dalam mendukung Pariwisata sebagai Prime Mover pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur,” tegas VBL.(m45)

Berikan Komentar Anda.