Home Pariwisata Wacana Revitalisasi dan Penutupan Taman Nasional Komodo

Wacana Revitalisasi dan Penutupan Taman Nasional Komodo

459
0
SHARE

Oleh : Mira Natalia Pellu
Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Kupang, terasntt.com — Komodo (varanus komodoensis) adalah satu – satunya kadal terbesar di dunia, dengan panjang rata – rata 2 – 3 meter dan beratnya mencapai 100 kg. Komodo dipercaya sudah hidup di muka bumi sejak jutaan tahun silam. Kehidupan komodo sebagai binatang reptil purba sangat brutal dan penuh perjuangan. Tidak seperti mamalia lain yang dipelihara induknya, sejak lahir bayi komodo sudah harus belajar menyelamatkan diri dari komodo lain, bahkan dari induknya sendiri yang bisa memangsannya kapan saja (Wijaya, 2019).

Habitat komodo hanya dapat ditemukan di Indonesia lebih tepatnya di Nusa Tenggara Timur, Manggarai Barat di pulau komodo. Sebagai hewan yang dilindungi oleh pemerintah, habitat komodo dijadikan sebagai taman nasional komodo.Taman Nasional Komodo (TNK) adalah kawasan konservasi yang bertujuan untuk melindungi komodo beserta habitatnya.

Adapun tujuan utama dari kawasan ini yaitu untuk dikembangkan sebagai tujuan ekowisata. Sebagai bagian dari ekowisata, pihak pengolah memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk berhubungan langsung dengan kehidupan hewan liar ini.

Potensi pariwisata dalam TNK faktanya sangat kompetitif dalam pemasaran global. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke TNK terus meningkat, terhitung dari tahun 2014 sampai dengan 2018, jumlah wisatawan yang berkunjung ke TNK mengalami peningkatan dua kali lipat, dari jumlah 80 ribu orang pada tahun 2014, menjadi 170 ribu orang lebih pada tahun 2018. Dari jumlah tersebut rata-rata 60% merupakan wisatawan negara asing. Terkait jumlah komodo kurang lebih jumlahnya sekitar 2800 ekor (Razya,2019). Hal ini menjadi salah satu pemasukan dan juga lahan usaha bagi masyarakat di sekitar pulau komodo yang mengantungkan hidup mereka kepada pariwisata dan juga kunjungan dari wisatawan. Juga menjadi pemasukan bagi provinsi NTT, bahkan negarapun kenaimbasnya.

Sebagai salah satu sumber pemasukan bagi masyarakat dan juga habitat dari komodo, TNK menjadi salah satu perhatian khusus bagi pemerintah Nusa Tenggara Timur. Dalam rangka meningkatkan populasi komodo, gubernur NTT Viktor Laiskodat mengeluarkan wacana penutupan TNK di awal tahun 2019 lalu dan rencannya akan dilaksnakan pada awal januari 2020 demi revitalisai.

Revitalilasi yang akan dilakukan oleh gubernur NTT adalah dengan menata kembali sumber makanan komodo agar tetap tersedia.

Melakukan pelestarian hutan dan habitat komodo yang bertujuan untuk melindungi komodo dari kepunahan. Gubernur NTT menilai tingginya minat pengunjung ke pulau komodo tersebut menganggu habitat komodo, karena gerak-gerik wisatawan dapat merusak habitat komodo. Selain itu juga akan ada pembatasan turis yang akan berkunjung ke TNK dan biaya yang dipunggut untuk masuk ke TNK juga akan lebih mahal. Dalam rangka menjadikan TNK sebagai wisata eksklusif yang dikelolah oleh pemerintah Provinsi NTT dan yang paling penting adalah meningkatkan populasi dari komodo itu sendiri. Sebagai pimpinan dan juga komunikator, wacana ini dinilai menimbulkan pro dan kontra dari sejumlah pihak dan juga akan berpengaruh pada pendapatan daerah.

Jika dilihat berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi SDA hayati dan ekosistemnya. Adapun yang dilihat berdasarkan cara memperoleh sumber makanan dari komodo yang dinilai mulai berkurang sehingga mengakibatkan komodo memangsa hewan peliharaan masyarakat.

Selain itu karena banyak hewan liar yang menjadi mangsa komodo di hutan mulai berkurang (mati,berpindah/terusir) ketika masyarakat membuka lahan baru (perambahan dan penebangan hutan) untuk aktivitas bertani dan berkebun (Aspek ekonomi). Aktivitas perambahan dan penebangan hutan secara langsung mempersempit ruang hidup komodo dan menggurangi komodo.

Berdasarkan undang-undang ini langkah gubernur NTT bisa dikatakan dapat diterima mengingat pulau komodo selain dihuni oleh komodo, juga terdapat Desa Komodo yang dihuni sekitar 2000 orang atau 500 kepala keluarga dalam 10 RT dan 5 RW.
Warga telah lama menempati pulau komodo jauh sebelum ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan taman nasional (Rosary, 2019).

Semenjak wacana ini keluar, media sebagai saluran komunikasi ikut menyebarkan berita ini. Mulai dari media online, cetak dan juga televisi ikut andil dalam publikasinya. Pemberitaan media yang cepat dan menembus ruang dan waktu membuat semua lapisan masyarakat pada akhirnya tahu apa yang kini terjadi di TNK. Media dinilai sebagai salah satu penghubung antara pemerintah kepada masyarakat dan sebaliknya. Salah satu akibat yang kini dirasakan masyarakat, sudah ada 600 pembatalan kunjungan yang diterima menurut data ASITA (Asosiasi Perjalanan Wisata) Manggarai Barat (Rosary, 2019).

Jika pulau komodo ditutup akan menimbulkan kerugian bagi penyedia jasa wisata mulai dari pemilik hotel, tur operator sarana transportasi, pemandu wisata, souvenir shop, dll. Bagi masyarakat pulau komodo sendiri akan berimbas pada pemberhentian pendapatan pedagang cendera mata sebesar 144, 51 pemandu wisata, 65 pengrajin patung, 13 kelompok pemilik
homestay, 19 usaha transportasi serta 42 usaha kelompok kuliner (Biro Humas,2019)

Merespon pemerintah dan juga masyarakat pulau komodo, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tidak tinggal diam, sebagai salah satu bagian yang terlibat dalam menjaga kelangsungan hidup dari komodo lewat menteri KLKH mengutus tim kajian untuk mengkaji lebih lanjut wacanan penutupan taman nasional komodo dalam rangka revitalisasi yang diajukan oleh gubernur NTT. Sebagai bahan pertimbangan TNK merupakan kawasan ekowisata, sehingga berpengaruh bagi pendapatan massyarakat.

Jika dilihat lebih dalam sumbangan TNK bagi pendapatan negara terus meningkat tiap tahunya berdasarkan PP No 12 tahun 2014 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada tahun 2014 senilai 5,4 M, tahun 2015 19,20 M, tahun 2016 22,80 M, tahun 2017 29,10 M dan tahun 2018 33,16 M. Tiket masuk yang dihargakanpun berstandar. Untuk wisatawan mancannegara sebesar Rp.150.000 dan wisatawan Nusantara sebesar Rp.5000.

Tentu jika hal penutupan taman nasional komodo secara tiba-tiba akan berdampak besar bagi semua pihak. Hendaknya prinsip penutupan taman nasional komodo harus diletakan pada otoritas dan urusan sesuai UU Pemda, UU Kehutanan, dan juga PP tentang pembagian urusan. Kunjungan tim kajian telah dilakukan pada 13-16 agustus 2019.

Dengan memperhatikan beberapa poin penting dan juga berdasarkan kajian bahwa TKN mempunyai 2 status internasional yang ditetapkan oleh UNESCO yaitu Cagar Biosfer (Biosphere Reserve) sejak tahun 1977 dan Warisan Alam Dunia (Natural World Heritage Site) pada sejak 1991. Jangan lupa komodo pada tahun 2012 masuk dalam kategori keajaiban dunia (New 7 wonder). Menyandang beberapa status international menjelaskan bahwa TKN bukan hanya menjadi milik pemerintah Indonesia namun menjadi milik dunia. Sebagai habitat dari kadal raksasa dan endemik Indonesia. Komodo menjadi daya tarik bagi wisatawan nusantara dan mancanegara untuk berkunjung keTNK.

Untuk mejadikan TNK sebagai wisata alam eksklusif dapat diwujudkan dengan penyediaan saran-prasarana serta jasa wisata alam yang berstandar intenasional dengan fasilitas umum yang dibutuhkan oleh wisatawwan sebagai sarana akomodasi, transportasi, informasi, hiburan, perbankan dll. Terakhir dalam rapat terbatas yang diselenggarakan 30 september 2019 yang digelar oleh kementerian dan juga mengahadirkan gubernur NTT, dengan memperhatikan hasil kajian dari tim terpadu kementrian, dihasilkan kesepakatan untuk tidak dilakukan penutupan pulaukomodo.
Sampai dengan keputusan menteri ini keluar, wacana baru yang disinyalir berasal dari pemerintah seputar penolakan keputusan menteri mulai tercium. Masyarakat tampaknya masih berjaga-jaga. Namun, yang paling penting semoga seluruh permasalahan ini cepat selesai, dan menghasilkan simbiolosis mutualisme pada semua pihak.

Komodo bukan hanya milik masyarakat pulau komodo, bukan milik masyarakat Manggarai atau milik Indonesia dan dunia. Komodo adalah titipan dari Sang Maha Kuasa sebagai bentuk kemurahannya untuk menunjukan bahwa kita semua masih diijinkan melihat dan belajar dari komodo sebagai salah satu kadal raksasa yang kebetulan ada di PulauKomodo.(*)

Berikan Komentar Anda.