Home Pariwisata Wacana Revitalisasi dan Penutupan Taman Nasional Komodo

Wacana Revitalisasi dan Penutupan Taman Nasional Komodo

521
0
SHARE

Oleh : Mira Natalia Pellu
Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Kupang, terasntt.com — Komodo (varanus komodoensis) adalah satu – satunya kadal terbesar di dunia, dengan panjang rata – rata 2 – 3 meter dan beratnya mencapai 100 kg. Komodo dipercaya sudah hidup di muka bumi sejak jutaan tahun silam. Kehidupan komodo sebagai binatang reptil purba sangat brutal dan penuh perjuangan. Tidak seperti mamalia lain yang dipelihara induknya, sejak lahir bayi komodo sudah harus belajar menyelamatkan diri dari komodo lain, bahkan dari induknya sendiri yang bisa memangsannya kapan saja (Wijaya, 2019).

Habitat komodo hanya dapat ditemukan di Indonesia lebih tepatnya di Nusa Tenggara Timur, Manggarai Barat di pulau komodo. Sebagai hewan yang dilindungi oleh pemerintah, habitat komodo dijadikan sebagai taman nasional komodo.Taman Nasional Komodo (TNK) adalah kawasan konservasi yang bertujuan untuk melindungi komodo beserta habitatnya.

Adapun tujuan utama dari kawasan ini yaitu untuk dikembangkan sebagai tujuan ekowisata. Sebagai bagian dari ekowisata, pihak pengolah memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk berhubungan langsung dengan kehidupan hewan liar ini.

Potensi pariwisata dalam TNK faktanya sangat kompetitif dalam pemasaran global. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke TNK terus meningkat, terhitung dari tahun 2014 sampai dengan 2018, jumlah wisatawan yang berkunjung ke TNK mengalami peningkatan dua kali lipat, dari jumlah 80 ribu orang pada tahun 2014, menjadi 170 ribu orang lebih pada tahun 2018. Dari jumlah tersebut rata-rata 60% merupakan wisatawan negara asing. Terkait jumlah komodo kurang lebih jumlahnya sekitar 2800 ekor (Razya,2019). Hal ini menjadi salah satu pemasukan dan juga lahan usaha bagi masyarakat di sekitar pulau komodo yang mengantungkan hidup mereka kepada pariwisata dan juga kunjungan dari wisatawan. Juga menjadi pemasukan bagi provinsi NTT, bahkan negarapun kenaimbasnya.

Sebagai salah satu sumber pemasukan bagi masyarakat dan juga habitat dari komodo, TNK menjadi salah satu perhatian khusus bagi pemerintah Nusa Tenggara Timur. Dalam rangka meningkatkan populasi komodo, gubernur NTT Viktor Laiskodat mengeluarkan wacana penutupan TNK di awal tahun 2019 lalu dan rencannya akan dilaksnakan pada awal januari 2020 demi revitalisai.

Revitalilasi yang akan dilakukan oleh gubernur NTT adalah dengan menata kembali sumber makanan komodo agar tetap tersedia.

Melakukan pelestarian hutan dan habitat komodo yang bertujuan untuk melindungi komodo dari kepunahan. Gubernur NTT menilai tingginya minat pengunjung ke pulau komodo tersebut menganggu habitat komodo, karena gerak-gerik wisatawan dapat merusak habitat komodo. Selain itu juga akan ada pembatasan turis yang akan berkunjung ke TNK dan biaya yang dipunggut untuk masuk ke TNK juga akan lebih mahal. Dalam rangka menjadikan TNK sebagai wisata eksklusif yang dikelolah oleh pemerintah Provinsi NTT dan yang paling penting adalah meningkatkan populasi dari komodo itu sendiri. Sebagai pimpinan dan juga komunikator, wacana ini dinilai menimbulkan pro dan kontra dari sejumlah pihak dan juga akan berpengaruh pada pendapatan daerah.

Jika dilihat berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi SDA hayati dan ekosistemnya. Adapun yang dilihat berdasarkan cara memperoleh sumber makanan dari komodo yang dinilai mulai berkurang sehingga mengakibatkan komodo memangsa hewan peliharaan masyarakat.

Selain itu karena banyak hewan liar yang menjadi mangsa komodo di hutan mulai berkurang (mati,berpindah/terusir) ketika masyarakat membuka lahan baru (perambahan dan penebangan hutan) untuk aktivitas bertani dan berkebun (Aspek ekonomi). Aktivitas perambahan dan penebangan hutan secara langsung mempersempit ruang hidup komodo dan menggurangi komodo.

Berikan Komentar Anda.