Home Pendidikan Rendahnya Upah Guru Honorer, Pengarang ini Bersurat Kepada Bupati Flotim

Rendahnya Upah Guru Honorer, Pengarang ini Bersurat Kepada Bupati Flotim

1511
0
SHARE

Kupang, Terasntt.com – Rendahnya tingkat kesejahteraan atau upah Guru Honorer di Kabupaten Flores Timur (Flotim) membuat pengarang karya fiksi Kopong Bunga Lamawuran menulis ‘Surat Kepada Bupati Flores Timur’.

Seperti yang dilansir dari media online jejakkasus.net, isi surat itu ingin menyampaikan kepada Bupati Flotim tentang rendahnya pendapatan atau upah dari seorang Guru Honorer.

Pengarang ‘Antologi Cerpen Perzinahan di Rumah Tuhan’ itu menuliskan, persoalan upah Guru Honorer ini terjadi sudah cukup lama.

Jika Bupati Flotim tidak mengambil sebuah kebijakan, lanjutnya, maka orang-orang yang terkena dampak dari situasi ini akan berpikir bahwa sistem dan kebijakan yang dibuat para pemimpin bukanlah sebuah representasi dari upaya menyejahterakan Guru Honorer.

Dalam surat itu pun, Ambuga, sapaan akrab Kopong Bunga Lamawuran, mengisahkan pengalamannya dengan seorang guru yang mengajar di lereng Gunung Boleng, di dusun Oringbele Gunung, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flotim, NTT.

Guru itu tiap seminggu sekali harus berjalan kaki mendaki kurang lebih dua jam untuk bisa mengajar murid-murid di sana.

“Biasanya, dia membawa beras dan kebutuhan lain dari rumahnya. Saya melihat bulir-bulir keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya dengan penuh rasa belas kasihan, lantaran upah yang diperolehnya hanya sebesar Rp. 300 ribu sebulan. Itupun biasanya dibayar tiga bulan sekali. Selama menemainya dua hari, kata ‘kesejahteraan’ tidak bisa hilang dari ingatan saya, bahkan sampai sekarang,” tulis Ambuga.

Menurutnya, seruan akan nasib dan kesejahteraan guru honor ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Persoalan ini, baginya, menyentuh inti dasar kehidupan, terlebih inti dasar pendidikan.

“Saya, bahkan kita semua, hampir tidak bisa membayangkan kemajuan sebuah pendidikan, tanpa diimbangi asupan ‘gizi’ yang baik bagi guru-gurunya. Jika tanpa kesejahteraan dan upah yang layak, bagaimana seorang Guru Honorer bisa mempersiapkan masa depannya, mencukupi kebutuhan hidupnya, menabung untuk masa depan anaknya, dan untuk membeli buku sekedar menambah wawasan dan materi ajarannya (satu kebutuhan yang hampir tidak bisa dipenuhi karena rendahnya penjasaan)?” sambungnya.

Beberapa Tulisan Lain

Jika dilihat lebih teliti, tulisan Ambuga memperjuangkan nasib dan kesejahteraan Guru Honorer bukanlah baru pertama kali dalam bentuk ‘Surat Kepada Bupati Flores Timur’ ini.

Pada pertengahan tahun 2017, terasntt.com menerbitkan tulisannya berjudul “Ancangan Gerakan Kabupaten Literasi, Sebuah Onani Kata-kata’.

Secara khusus tulisan itu membahas ketidakberpihakan organisasi yang mengatasnamakan guru, dan tidak memperjuangkannya secara organisasi.

Dalam subjudul tulisan itu, Ambuga akhirnya menyarankan kepada organisasi-organisasi yang menyandang label guru agar bisa bersuara.

Jika secara pribadi seseorang guru bisa menulis tentang nasib Guru Honorer, maka secara organisasi pun, guru-guru harus bergerak untuk berjuang.

Selain tulisan itu, ada lagi sebuah artikel yang ditulis Ambuga berjudul “Buku dalam Jangkauan Guru Honorer”. Artikel ini pernah dimuat di beberapa media online, di antaranya jejakkasus.net, moral-politik.com, iwanpuken.wixsite, juga blog ambugaadrres.blogspot.com.

Inti dari beberapa tulisan ini tidak jauh berbeda dengan ‘Surat Kepada Bupati Flores Timur’, yaitu menginginkan adanya kesejahteraan dan pengupahan yang layak bagi guru honorer yang mengabdi di Kabupaten Flores Timur.

Penulis : Rafael L Pura

Berikan Komentar Anda.