Home Nasional Rentetan Derita Korban Banjir Lebak yang Tertutup Isu Jakarta

Rentetan Derita Korban Banjir Lebak yang Tertutup Isu Jakarta

187
0
SHARE
Puluhan ribu warga Lebak, Banten mengungsi lantaran rumahnya rusak berat diterjang banjir dan longsor (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Jakarta, terasntt.com — Wilayah Lebak, Banten dilanda banjir bandang dan tanah longsor pada awal Januari lalu. Begitu dahsyat hingga 30 desa di 6 kecamatan terdampak, aktivitas lumpuh total, ribuan rumah hancur, dan 17.200 mengungsi.

Banyak cerita pilu di balik bencana yang menghantam Lebak. Dari mulai kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, cemas mati kelaparan hingga rebutan bantal di pengungsian.

Namun, semua itu seolah tertutup oleh isu tentang DKI Jakarta. Media sosial lebih ramai membicarakan banjir di Jakarta dan sekitarnya.

Berulang kali trending topic di Twitter pun hanya menyangkut banjir di Jabodetabek. Lebak tidak turut menjadi perhatian publik.

Siti Khadijah, warga Desa Banjarsari, Kecamatan Lebak Gedong, Lebak, dan dua orang kepala keluarga lainnya lapar tak keruan pada Kamis lalu (9/1). Mereka sudah tak punya makanan yang bisa mendiamkan suara keroncong dari perut.

Siti dan dua keluarga itu mengungsi di sebuah rumah kosong tak jauh dari tempat tinggalnya yang rusak berat akibat banjir. Mereka tidak tinggal di posko pengungsian.

Saat stok makanan benar-benar habis, mereka lalu mendatangi posko pengungsian di GOR Futsal Desa Banjar Irigasi. Mencari bantuan makanan untuk dibawa pulang dan disantap bersama.

Namun, mereka tak mendapat apa yang dibutuhkan. Petugas dan relawan tidak memberi jatah makanan lantaran Siti dan dua kepala keluarga lainnya tidak terdata sebagai pengungsi.

Siti kecewa bukan kepalang. Dia takut mati kelaparan karena benar-benar sudah tak memiliki makanan. Beras bantuan dari pemerintah pusat pun sudah habis.

Berbekal harapan bantuan dari tempat lain, Siti dan 2 kepala keluarga itu lalu berjalan meninggalkan posko. Beruntung masih ada tenaga yang bisa digunakan untuk mencari bantuan makanan.

Hingga kemudian mereka tiba di Posko Peduli Nahdlatul Ulama (NU). Tak peduli apakah bakal ditolak seperti di posko sebelumnya, mereka mencoba untuk meminta bantuan makanan ketimbang mati kelaparan.

“Kami nekat datang ke sini untuk mendapatkan bantuan beras, lauk pauk, mie instan dan air kemasan,” kata Siti.

Beruntung, Posko Peduli NU masih memiliki stok logistik yang cukup banyak. Siti bersyukur bisa memperoleh bantuan sehingga bisa bertahan hidup beberapa pekan ke depan.

“Kami menyalurkan bantuan itu mencukupi untuk kebutuhan dua pekan ke depan untuk tiga kepala keluarga,” ucap relawan Posko Peduli NU, Maksum.

Tak Berpikir Hari Esok

Saprudin (45), warga Desa Banjar Irigasi, Lebak Gedong, Lebak tengah melamun di pengungsian. Benaknya diselimuti kegelisahan dan ketakutan.

Bagaimana tidak, Saprudin sehari-hari berdagang es jus keliling. Namun, gerobaknya hanyut terbawa banjir bandang. Harta benda di rumahnya pun tak terselamatkan.

“Kami belum memikirkan ke depan usaha apa, karena gerobak yang sehari-hari untuk menafkahi keluarga hilang diterjang banjir bandang itu,” ucapnya di pos pengungsian GOR Futsal.

Saprudin memiliki dua orang anak yang masih menuntut ilmu. Dia takut kedua buah hatinya itu putus sekolah akibat banjir yang membuat ekonomi keluarga luluh lantak.

Anak pertama Saprudin kuliah semester 3 di STKIP Setia Budhi, Rangkasbitung. Uang kuliah dan biaya hidup untuk anaknya sebesar Rp5 juta belum bisa dipenuhi.

Berikan Komentar Anda.