Home Pendidikan Secangkir Kopi di Lopo Literasi

Secangkir Kopi di Lopo Literasi

594
0
SHARE

Oleh : Rafael L Pura

Larantuka, Terasntt.com – Saat liburan pergantian tahun kemarin, saya bersama Ola Mangu Kanisius dan Hengki Bebe mengunjungi Lopo literasi Agupena Flotim, di Lebao Larantuka.

Selain untuk memberikan selamat atas kelahiran putra Maksimus Masan Kian, kedatangan kami juga untuk bersilatuhrami, setelah sekian lama tak bertemu.

Lopo itu berdiri tegak di halaman rumah Ketua Agupena Flotim, Maksimus Masan Kian. Sederhana memang tampilan lopo itu. Atapnya dibuat dari daun ilalang berbentuk setengah lingkaran. Satu tiang ditengah sebagai penyanggah.

Tiang itu, seperti menggambarkan pergerakan Agupena Flotim. Bagi saya, Mereka memang menjadi tiang penyanggah utama gerakan literasi di bumi Flotim.

Di dalam lopo, terdapat tumpukan-tumpukan buku yang tersusun rapi pada kursi panjang dari bambu. Tiga kursi kayu mengelilingnya. Belasan anak sedang membaca dengan penuh ketenangan, terhisap sepenuhnya dalam keheningan yang dalam.

Seorang anak membaca sambil sesekali mengetukkan jemarinya pada daun meja, terlihat berirama mengikuti sebuah ritme yang sepertinya didengungkan dalam hatinya sendiri.

Aku hanya bisa memikirkan keheningan dan kesunyian yang mereka kecapi, sebelum segala kemewahan itu, secara tiba-tiba, kami rampas.

Kedatangan kami sepertinya menggangu mereka. Keasyikan membaca mereka sirna, lalu perlahan-lahan mereka menyingkir ke luar lopo. Mereka ke luar, dan kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajah mungil mereka, ikut sirna.

Kami duduk agak lama, dan mereka belum juga menjauh dari lopo, tempat kami membahas hal-hal yang mungkin saja tidak penting menurut mereka. Mereka bermain kejar-kejaran, tertawa dengan suara keras, saling berteriak dengan suara melengking — yang semuanya itu dengan satu tujuan: mengusir kami dari tempat itu.

Tempat itu begitu berarti bagi mereka — setidaknya itu menurutnya. “Sebuah tempat yang nyaman untuk melihat suatu dunia yang indah dalam sebuah buku,” pikirku.

Di hadapan kami, beberapa buku diam tak tersentuh. Jika kami pergi, pikirku, seorang anak pastinya akan datang dan melihat-lihat isi dunia dalam buku itu.

Kenyamanan di lopo ini begitu menyenangkan, hening dan dalam. Siapa saja, pikirku, termasuk juga anak-anak itu, akan terhisap sepenuhnya ke dalamnya, seolah-olah tempat lain adalah dunia aneh yang tak ingin mereka jamah.

Mereka ingin sekali membaca di lopo ini, dalam ketenangan yang dalam. Tapi kami datang merebut ketenangan itu dari mereka. Mereka masih bermain dan berteriak di luar lopo.

Kami kemudian bergeser memasuki Rumah Maksimus Masan kian. Sederhana memang, tak ubahnya seperti sebuah perpustakaan. Buku-buku berceceran di lantai, mulai dari teras hingga dalam kamar.

Banyak piagam-piagam penghargaan bergantungan di dinding. Serta beberapa dos buku kiriman kerabatnya maupun sumbangan dari pemerintah yang belum dibukanya. Dos-dos itu tertumpuk begitu saja di teras rumah.

Lagi- lagi kehadiran kami mengusik anakanya yang masih bayi. Tangisannnyanya dari dalam kamar membuat kami berhenti berbicara.

Rupanya itu adalah tangisan anak laki-lakinya Maksimus Masan Kian. Mula-mula kedatangan kami memang untuk memberikan selamat atas kelahiran putranya ini.

Anak laki-laki itu bernama Literatio. Istrinya bercerita, saat mengandung, Maksimus Masan kian memang jarang mendampinginya. Ia kerap keluar masuk- kampung untuk menggelorakan literasi.

Istrinya tak pernah menegur, apalagi melarangnya. Ia mendukung penuh perjuangan suaminya itu.

Tak jarang istrinya harus sendirian melewati sepi dan malam-malam panjang sendirian. Di sepi yang panjang itu, Ia selalu mendoakan terbaik buat suaminya. Baginya Maksimus Masan Kian adalah laki-laki yang kuat. Ia tak pernah menyerah dengan semangat yang diusungnya.

“Untuk itulah, kami memberinya nama Literatio,” ujarnya lirih.

Setelah itu, kami kembali lagi dududk di Loppo. Istrinya menyajikan Kopi. Ditemani secangkir kopi itu, Maksimus Masan Kian bercerita panjang lebar tentang pergerakannya menggelorkan literasi di bumi Flotim.

Tidak mudah memang, banyak nada-nada sumbang yang dialamatkan kepadanya. Banyak menilai, yang dilakukan Masan kian ini hanya pencitraan belaka.

Justru nada-nada sumbang inilah yang kemudian memicunya untuk terus bergerak.

Bermodal sepeda motor Supranya, Maksimus membawa berbagai judul buku untuk dibagikan di kampung -kampung. Untuk mendirikan Lopo itu pun, Ia harus merogo kocek pribadinya. Tidak ada kepuasan bagi Maksimus, selain melihat anak-anak semaikin maju dalam pendididikannya.

Kendati pergakannnya belum dikatakan berhasil, namun disinilah Maksimus Masan Kian patut diacungi jempol, setidaknya telah memulai langkah pertama.

Dan pada akhirnya, Konsistensi yang menjadi penentu. Konsistensinya tanpa batas dalam dunia literasi telah menempatkan perjuangannnya pada tempat yang paling tinggi.

Sore pun menjelang, kami pamit pulang. Anak-anak yang sedari tadi bermain di luar lopo berlarian masuk.

Seoarang anak kecil dengan cepat melompat naik di atas tempat duduk yang diduduki Maksimus Masan Kian tadi. Ia duduk dalam balutan seragam merah Liverpool, dengan logo yang begitu Agung ” You’ll Never Walk Alone”.

Aku memalingkan wajahku, menatap jalan setapak yang kami lalui. “Kamu tidak pernah berjalan sendirian,” gumamku dalam hati.

Berikan Komentar Anda.