Sekolah Disegel Murid SDN Lewopao Ujian di Teras

Sekolah Disegel Murid SDN Lewopao Ujian di Teras

1268
0
SHARE
Foto : Alex L. Sira

ADONARA, terasntt. com — Pemilik lahan kembali menyegel SDN Lewopao, Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur (Flotim) karena Pemerintah tak membayar uang pembebasan lahan. Akibatnya murid kelas kelas 1 dan 2 mengikuti ujian semester di teras ruang kelas lama.

Gedung kelas baru ini sempat ditutup pada bulan Junu 2017 lalu dan dibuka ketika ada kunjungan kerja Wakil Bupati Agus Payong Boli.
” Saat itu Wakil Bupati berjanji akan menyelesaikan dana pembebasan lahan. Dan siap menganggarkan dalam perubahan anggaran 2017 pada bulan November. JPihak pemerintah mestinya memiliki komitmen dalam menyelesaikan persoalan ini. Saya sebagai masyarakat yang merasa dirugikan. Saya sudah memberikan pertimbangan kepada pemerintah daerah untuk membayar uang pembebasan lahan sebesar Rp. 40 juta, pihak pemda melalui Wabub Foltim Agus Payong menyetujui kesepakatan tersebut. Wabub Flotim menyarankan kepada saya untuk mengajukan Proposal pengajuan pembebasan lahan. Saya sudah mengajukan Proposal itu ttanggal 1 Oktober 2017, untuk menindaklanjuti lahan (tanah) yang sudah digunakan oleh pemerintah daerah untuk bangunan gedung sekolah suas 785 m², akan tetapi pihak pemda tidak ada komitmen dalam menyelesaikan persoalan sampai hari ini maka saya menutup kembali dua ruang kelas tersebut,” kata Ola Mangu di Lewopao, Rabu (6/12/2017).

Sementara kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaraga, Bernad Beda Keda ketika ditemui disela-sela kegiatan “Peningkatan profesi manajemen olahraga dan kapasitas organisasi olahraga fungsional, profesi dan prestasi” di Hotel Asa, Senin 04/12/17, mengatakan sekolah tersebut sudah dibangun puluhan tahun, jika ada kesalahan adiministrasi maka mari kita atur secara baik

“Jika kita jawab dengan emosi, biar tutup sekolah saja kalau masyarakat macam-macam dengan tanah, jangan bertele-tele mau tutup sekolah. Nantikan dia punya anak juga yang rugi,” kata Beda Keda.

Ia mengatakan proses pembebasan lahan sekolah tersebut sudah melalui tahapan-tahapan budaya sesuai dengan budaya daerah setempat dan perlu kita hargai.

Kepala Sekolah Martinus Kopong Liku,
mengatakan sekolah yang dipimpinnya utu masih kekurangan ruangan bekajar dan akibat darj oenyegekan itu sebanyak 52 murid kelas 1 dan dua mengikuti ujian pertengahan semester di teras kelas 3

” Kami berharap pihak pemerintah dan instansi terkait segera menyelesaikan persoalan ini agar proses belajar mengajar berjalan efektif,” katanya.

Yuliana Perada Buron, salah satu orangtua murid yabg juga guru setempat mengatakan, rasa kasihan terhadap anak-anak yang menjadi korban.

” Awalnya kami berniat murid kelas 1 dan 2 di pulangkan ke orangtuanya dan tidak mengikuti ujian. Harapan kami urusan antara pemilik tanah dan pemerintah segera di selesaikan. Sehingga para murid dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan tenang. Urusan sekolah ini sangat mengganggu aktivitas KBM. Ketika pertama kali ditutup murid kelas 1 di pindahkan di ruang kelas 6, berhubung tahun ajaran baru. Tapi kali ini murid kelas satu dan dua harus mengikuti ujian di teras kelas,” katanya.(als)

Berikan Komentar Anda.