Selayang Pandang Pertanian Malaka

Selayang Pandang Pertanian Malaka

373
0
SHARE
Foto : Istimewa

Oleh: Dr. Bernard deRosari

Komoditas penting dan bernilai ekonomi bagi rumahtangga petani Malaka yaitu jagung, kacang hijau dan terbaru bawang merah.

Malaka memiliki 2 puncak hujan dan 3 MT, yg terdiri atas MH I, MH II, dan MK 1. Sehingga Malaka memiliki 8 bulan hujan dan 4 bulan kering. Pola hujan ini berbeda dengan pola hujan umumnya di wilayah Kering (kelas F) menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson.

MH I mulai Desember s/d April. Komoditas pangan yang diusahakan jagung, padi ladang, ubi kayu, kacang nasi.
MH II mulai Mei s/d Juli atau dikenal dg nama Udan Lor. Komoditas pangan yang diusahakan jagung, kc hijau, dan tahun ini bawang merah. MK I mulai Agustus s/d Oktober/Nopember awal. Komoditas yg diusahakan jagung ahuklean (tugal dalam, sedalam 30 cm tanpa ditutup lubang dan ditanam jagung 4-5 biji/lubang).

Secara ekonomi jagung merupakan penyandang pangan rumahtangga petani (food security) sekaligus sebagai komoditas yg dijual untuk mendapatkan sejumlah uang cash utk membeli kebutuhan lainnya termasuk membeli beras. Kacang hijau merupakan sumber pendapatan yang penting yang berasal dari pangan, disamping ternak kecil ayam, kambing, dan babi serta ternak besar yaitu sapi.

Sumber air utama adalah sumur dangkal untuk keperluan mck dan menyiram bawang merah. Khusus di desa-desa sepanjang bantaran sungai Benanain, air sungai Benanain digunakan untuk minum.

Infrastruktur jalan cukup baik dominan pengerasan, mengitari desa dan menghubungkan dengan desa-desa lainnya.

Penjualan hasil umumnya dilakukan di desa. Misalnya sapi dijual di desa kepada pedagang belatik/papalele dengan sistem tafsir berat dan harga.

Penggunaan eksternal input sangat rendah, misalnya tidak menggunakan benih VUB, pupuk dan pestisida. Input yang biasanya digunakan misalnya herbisida saja.

Limbah produksi pertanian dan peternakan belum dimanfaatkan. Batang jagung, kacang hijau dan sisa panen dibiarkan hancur, dibakar dan sedikit sekali diberikan ke ternak sebagai pakan.

Kios sarana produksi pertanian tidak ada. Apabila petani membutuhkan saprodi input terutama herbisida maka akan dibeli di Betun, ibu kota Kabupaten Malaka.

Rata-rata kepemilikan lahan 0,3-0,5 ha dgn status hak milik belum sertifikat. Ada beberapa lahan sbg tanah ulayat dan digunakan bersama anggota suku.

Kelembagaan produksi misalnya poktan masih rendah aktivitas kolektifnya dan dengan adanya usahatani bawang merah mulai nampak aktivitas kolektif poktan. Kelembagaan permodalan, pengolahan hasil dan pemasaran tidak ada.

Komoditas yang memiliki potensi dan peluang ekonomi dan diminati masyarakat dewasa ini yaitu bawang merah. Inovasi pertanian yg dapat diintrodusir yaitu penggunaan alsintan misalnya cultivator dan alat semprot hama/penyakit.

Memperhatikan sumberdaya pertanian dan mata pencaharian masyarakat Malaka dominan ke bidang pertanian (89%), maka pemerintah Kabupaten Malaka dibawah kepemimpinan Bupati dr. Stef Bria Seran, MPH dan Wakil Bupati Drs. Daniel Asa, periode tahun 2016-2021 menetapkan Sektor Pertanian sebagai sektor prioritas pembangunan Kabupaten Malaka.

Program pembangunan sektor pertanian tersebut diaktualisasikan dalam suatu tagline Revolusi Pertanian Malaka (RPM).
RPM adalah “Upaya yang dilakukan secara sungguh-sungguh, dengan cara-cara yang luar biasa, dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya masyarakat Malaka berkelimpahan makanan”.

RPM menetapkan 8 komoditas pertanian sebagai pendorong peningkatan kesejahteraan secara cepat, yaitu padi (beras bermutu), jagung, bawang merah, kacang hijau, pisang kapuk, kambing, itik, dan ikan bandeng. Penetapan dan penyebaran komoditas ini berdasarkan arahan AEZ (agroecological zone) dan dengan pendekatan OVOP (one village one product).

Maka pada tahap awal produksi padi dan jagung mulai menggeliat di MT 2016/2017. Dan puncak produksi 2017 dari komoditas bawang merah.

Bawang merah dengan luas tanam 50 ha, dengan provitas mencapai 16-24 ton/ha menjadikan Malaka tahun ini sebagai sentra produksi bawang merah, tercatat produksi mencapai 500 ton.

Dan dihari Kamis, 12 Oktober 2017 Mentri Pertanian RI dan Mentri Pertanian dan Perikanan RDTL yang diwakilkan kepada pejabat kementerian kedua negara, melaksanakan launching ekspor bawang merah dari Malaka dan Belu ke Timor Leste.

Semoga tanah Malaka yang subur berkat endapan topsoil yang dibawah banjir Sungai Benanain yang kerap terjadi, menjadikan Malaka sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dan pemasok produksi pertanian bagi wilayah NTT dan garda terdepan di tapal batas NKRI. (BdR).

Berikan Komentar Anda.