Home Hukrim Sumber Air Waitahik, Bukti Tanpa Perencanaan Awal

Sumber Air Waitahik, Bukti Tanpa Perencanaan Awal

516
0
SHARE

Mata air Wai Tahik dan Baololon di Lite yang mau dialirkan ke Ile Boleng/ foto dok Hipanara

Kupang, terasntt.com — Kegiatan pembangunan jaringan air bersih/minum (SPAM IKK Kecamatan Ile Boleng) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Flores Timur yang diangkat Ampera Flores Timur hingga kini belum tuntas. Pihak Ampera dan institusi kemahasiswaan di Kupang terus mendesak pihak penegak hukum untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus yang nilainya sangat besar ini.

Menurut mereka, belum ada tindak lanjut atas laporan yang diberikan kepada pihak kejaksaan Tinggi NTT mengundang pertanyaan publik.

Ketua Bidang Penalaran dan Keilmuan Himpunan Pelajar Mahasiswa Adonara Tengah (Hipanara) Kupang, Abrosius Kopong Bura, melalui pernyataan pers tertulis yang diterima terasntt.com, Kamis, (3/10/2019), memberikan data tambahan photo lapangan sumber mata air yang membuat proyek itu mangkrak hingga saat ini.

Menurut Mon panggilan akrab Ambrosius bahwa proses perencanaan kegiatan pembangunan jaringan air bersih/minum (SPAM IKK Kecamatan Ile Boleng) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Flores Timur, tidak cermat bahkan diduga tidak ada konsultan perencana dalam merencanakan sumber mata air.

“ Sumber mata air yang mengemuka bahwa di mata air Waitahik I dan Waitahik II, Wai Teet dan rembesan untuk kemudian disatukan dalam reservoir sebesar 100 M3 yang kemudian akan dialirkan ke Dokeng adalah sesuatu yang mustahil dan menujukan bahwa perencanaan awal oleh konsultan perencana diduga tidak dilakukan.

Sumber air Wai Tahik itu hanya satu dan tidak ada Wai Tahik 2. Airnya sangat kecil, masyarakat sekitar mengambil untuk kepentingan minum menggunakan gayung tangan. Begitupun Wai Te’et. Sumber Wai Te’et di wilayah Lite itu sebenarnya berada di perkampungan dan hanya ada pada musim hujan. Musim kemarau seperti ini airnya kering dan sama sekali tidak ada airnya,” ungkap Mon.

Kami menduga, Lanjut Mon, bahwa Wai Te’et yang dimaksudkan adalah salah satu sumber air di daerah yang disebut masyarakat setempat sebagai daerah Bao Lolon, yang airnya keluar dekat pohon Te’et (nama lokal) dan itu pun airnya sangat kecil. Dugaan ini karena sumber air Bao Lolon lebih dekat dengan Wai Tahik yang akan disatukan itu. Dan sumber keempat yang dinamakan rembesan itu, tidak diketahui letaknya dimana di wilayah Lite.

“ Semua orang Lite dan Kenotan tahu persis sumber-sumber air yang disebutkan ini. Kanapa? karena sumber air itu ada dalam wilayah perkebunan masyarakat yang biasa diambil untuk kebutuhan minum ketika berada di kebun,” tegas Mon Korebima

Sementara itu, mantan Ketua Hipanara Kupang periode 2015/1016, Alfons Payong Geroda mengatakan, bahwa perencanaan yang tidak prosedural dan baik ini memperlihatkan proyek dengan nilai yang sangat besar tetapi terkesan “ugal-ugalan”.

Ugal – ugalan dimaksud menurut Alfons, bahwa kegiatan pembangunan dirancang tidak melalui ketaatan terhadap aturan yang ada tetapi memaksakan proyek itu dikerjakan dan akibatnya mangkarak karena tanpa sumber mata air.

“ Kalau melalui perencanaan yang jelas, maka akan ada konsultan perencana yang memiliki keahlian khusus tentang merencanakan proyek air seperti ini. Dalam perencanaan didahulukan sumber airnya dari mana, debetnya sebesar mana dan dukungan perencanaan teknis lain untuk air itu benar-benar sampai ke tujuan. Dari investigasi lapangan yang dilakukan memang sumber air tidak mungkin untuk proyek sebesar ini dengan jarak dan pemenuhan kebutuhan satu kecamatan. Sumber airnya sangat kecil seperti ini diyakini tidak akan mungkin,” ungkap Alfon. (m45)

Berikan Komentar Anda.