Home Ekbis TPID NTT Bahas Strategi Hadapi Inflasi Jelang Idul Fitri

TPID NTT Bahas Strategi Hadapi Inflasi Jelang Idul Fitri

160
0
SHARE

Kupang, Terasntt.com,- Dalam rangka menjaga stabilitas harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan serangkaian kegiatan

Kegiatan yang dilakukan oleh TPID  yakni Salah satunya yakni sidak yang digelar Rabu (29/5/2019) di beberapa tempat diantaranya Pasar Naikoten, Pasar Oeba, Pelabuhan Tenau, BULOG, Gudang Distributor dan Bandara El Tari serta dilanjutkan pada rakor High Level Meeting (HLM) untuk membahas langkah strategis dalam menghadapi potensi Inflasi pada Hari Raya Idul Fitri.

Rapat dipimpin oleh Sekretaris Daerah Provinsi NTT, didampingi oleh Kepala Biro Ekonomi dan Kerjasama Setda Provinsi NTT serta Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT selaku Wakil Ketua TPID dan dihadiri oleh seluruh Anggota TPID Provinsi NTT.

Sekretaris Daerah Provnsi NTT, Benediktus Polo Maing dalam sambutannya mengapresiasi kinerja TPID Provinsi NTT serta menyampaikan optimismenya terhadap kestabilan harga komoditas di Provinsi NTT menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Asisten Direktur Deputi Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT, Muhammad Syahrial dalam paparannya menyampaikan, hingga bulan April 2019, inflasi Provinsi NTT masih terjaga di level yang cukup rendah.

“Pada bulan April 2019, Provinsi NTT mengalami inflasi sebesar 0,51 % (mtm), terutama disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara (administered prices). Sedangkan penyumbang inflasi lainnya adalah kelompok volatile foods yaitu komoditas bawang putih, bawang merah, cabai rawit dan ikan segar,” ungkap Syahrial.

Berdasarkan hasil sidak dan rakor HLM TPID tersebut, diperoleh informasi bahwa diperkirakan inflasi pada saat ini masih cukup terkendali. Pernyataan ini ditandai dengan stabilnya harga komoditas di beberapa pasar.

Harga bawang putih mulai turun di Rp 50-60 ribu dari sebelumnya Rp 80-90 ribu seiring ketersediaan pasokan dari Surabaya. Sementara harga bawang merah Rp 25-30 ribu pasca panen di Kupang Barat. Harga komoditas lainnya daging ayam ras, daging sapi, telur ayam juga relatif.

Di sektor peternakan, Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Danny Suhadi menyampaikan, sejak tahun 2015 ekspor daging sapi ke daerah lain terus mengalami peningkatan, bahkan juga dalam bentuk daging beku (frozen). Potensi ekspor ini juga terbuka lebar ke Timor Leste daiam rangka kerjasama Selatan-Selatan.

“Untuk daging ayam sendiri, pemerintah akan membangun industri pakan berbasis bahan baku lokal dalam rangka mengembangkan industri ternak ayam,” paparnya.

Dari sisi ketersediaan beras, Kepala BULOG Divre NTT, Eko Pranoto menyatakan, persediaan masih aman. Saat ini persediaan beras mencapai 30.000 ton untuk 4 bulan ke depan, dan siap untuk digunakan operasi pasar apabila harga beras naik.

“Sampai saat ini, harga beras stabil di kisaran 9 ribu sampai 12 ribu. Harga beras tersebut juga didukung oleh ketersediaan pasokan terutama yang didatangkan dari Sulawesi,” kata Danny.

Di sektor perhubungan, Angkasa Pura menyatakan bahwa setiap maskapai telah menurunkan harga sesuai dengan ketentuan tarif batas atas Menteri Perhubungan. Untuk lebaran tahun ini, peningkatan penumpang diprediksi tidak sebesar tahun lalu. Dan untuk memastikan kegiatan mudik penumpang berjalan dengan lancar, Angkasa Pura menyediakan posko mudik untuk menerima keluhan maupun saran dari penumpang.

Perwakilan Maskapai Lion Air dan Garuda Indonesia juga menyebut tarif angkutan udara yang berlaku saat ini masih ada dalam batas yang ditetapkan sesuai Keputusan Menhub No 106 Tahun 2019 yang ditandatangani 15 Mei la[u.

Sedangkan pada perhubungan laut, Pelindo menyampaikan bahwa pihaknya siap untuk mengawal proses bongkar muat barang secara optimal dan memprioritaskan bongkar muat pada komoditas-komoditas bahan pangan penunjang inflasi serta siap beroperasi 24 jam selama 7 hari sebagaimana disampaikan juga oleh Dinas Perhubungan Provinsi NTT.

Dari Pertamina, disampaikan bahwa telah dibentuk satgas pertamina secara nasional untuk memonitor kelancaran distribusi bahan bakar. Kondisi pasokan BBM di NTT hingga saat ini terpantau belum mengalami lonjakan harga. Hal ini juga disebabkan oleh beroperasinya beberapa SPBU satu harga yang telah beroperasi di 8 titik di Provinsi NTT.

Setanjutnya, Polda NTT menyatakan dukungan penuh terhadap operasional pengendalian inflasi melalui Satgas Pangan, dan diharapkan TPID dapat meningkatkan komunikasi kepada masyarakat untuk dapat menjaga ekspektasi masyarakat terhadap inflasi menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Menutup pertemuan ini, Kepala Biro Ekonomi Provinsi NTT, Lery Rupidara mengatakan pihaknya optimis, inflasi pada periode Hari Raya Idul Fitri tahun ini masih terkendali, namun begitu sinergitas antarlembaga serta peningkatan produksi komoditas untuk pemenuhan kebutuhan lokal masih tetap harus ditingkatkan.(Yon)

Berikan Komentar Anda.